Archive for the Inspirasi Rohani Category

4 Pelajaran Akhir Seorang Murid, dalam Kisah Naropa Tilopa #TantraYoga

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , , on January 4, 2017 by triwidodo

buku-tantra-yoga-lukisan-mural-di-vihara-hemis-leh

Lukisan Mural di dinding Vihara Hemis Leh Himalaya

Dalam perjalanan selanjutnya, Naropa melihat seorang anak memukuli orangtuanya. Naropa menegur dia, ”Mereka lebih tua dari kamu? Kenapa memukuli orangtua yang tak berdaya?”

“Terima-kasih Brahmana, tolong menasihati anak kami. Kami sangat menyayangi dia, sementara dia malah…..” — kalimat mereka terputus oleh tangisan.

Naropa menasihati anak itu, “Sulit mempercayai apa  yang kulihat….. Seorang anak memukuli orangtuanya. Orangtua yang melahirkan dia. Orangtua yang kendati dipukuli, masih tetap menyayangi dia…….”

“ltulah sebabnya, aku memukuli mereka. Karena kesayangan mereka, aku tidak pernah dewasa. Tetap anak. Mereka sudah tua renta, sudah hidup lama, sudah waktunya mati. Kalau mereka mati, aku baru menjadi kepala keluarga,” jawab si anak durhaka itu.

Naropa memarahi dia, ”Saya tidak pernah melihat seorang anak seperti kamu. Kamu menginginkan mereka mati? Mereka yang melahirkan kaaaaaaaaaaaaa. . . ”

Terputus  kalimat itu tak pernah selesai karena mereka semua sudah lenyap. Yang terdengar hanyalah suara Tilopa: “Naropa, Naropa – aku Tilopa. Kamu tidak mengenaliku. You missed me!

Naropa merasa lemah, lemas. Dia duduk di pinggir jalan, sambil merenungkan pelajaran kesembilan:

“Naropa lama harus mati. Ya, bila menginginkan kelahiran Naropa baru, maka yang lama harus mati.

Pola pikir lama, pola hidup lama, kebiasaan-kebiasaan lama — semuanya harus mati. Harus ditinggalkan, dilepaskan. Demi kelahiran Yang Baru!

Naropa baru sadar bahwa “pencariannya” tidak membawa hasil, karena “yang lama” di dalam dirinya belum mati. Tilopa sudah memberi sekian banyak peringatan. Sepertinya dia belum menangkap juga.

buku-tantra-yoga

Cover Buku Tantra Yoga

Naropa mensyukuri kesabaran Sang Guru. Ya, dia mensyukuri kesabaran Tilopa, “Sudah sembilan kali engkau memberi peringatan. Aku masih tetap tolol, goblok. Tidak menangkap maksudmu.”

Dia memutuskan untuk berhenti mencari. Ya, berhenti mencari dan mulai menggali. Baru jalan sebentar, dia melihat sebuah padepokan, sebuah ashram. Dia masuk ke dalam, “Bolehkah aku bermalam di sini?”

“Tentu, tentu” jawab seorang penghuni ashram.

Sore itu dia makan secukupnya. Malam pun tidur nyenyak. Esok pagi, ada yang bertanya: “Sepertinya kamu sedang mencari sesuatuu…”

“Ya, aku sedang mencari seorang Guru, Tilopa. Tetapi, sepertinya aku tak akan menemui dia, kalau belum mengubah diri. Oleh karena itu, sekarang aku berhenti mencari. Aku harus menggali diri. Harus membersihkan diri. Harus mempersiapkan diri, sehingga Sang Guru bisa kuundang untuk bersemayam di dalam diri.” Jawab Naropa.

“Tilopa? Sepertinya kamu salah cari Guru. Dia bukan apa-apa. Siapa bilang dia seorang Guru? Dia seorang pengemis biasa. Mau cari dia sih gampang. Asal kamu tahu, dia bukanlah seorang spiritual.”

Mereka berupaya meyakinkan Naropa bahwa dia telah salah-pilih. Naropa sempat bimbang, tetapi hanya untuk sesaat. Dia lebih percaya pada pengalaman pribadi daripada pendapat orang.

“Bagi orang lain, dia mungkin seorang pengemis biasa. Bagiku, dia Guru.”

Dari mereka, Naropa memperoleh alamat Tilopa.

Pelajaran kesepuluh,” Naropa menyimpulkan sencliri, ”Seorang siswa harus percaya penuh pada Gurunya. Hendaknya dia tidak bimbang, tidak ragu-ragu.”

Hendaknya dia tidak mempercayai omongan orang. Hendaknya dia meyakini pengalaman pribadi. Dengan bekal kepercayaan itu, keyakinan itu, Naropa melanjutkan perjalanannya.

buku-tantra-yoga-napak-tilas-tempat-bapak-anand-krishna-meditasi-di-vihara-hemis

Foto 2008 Napak Tilas Vihara Hemis Leh Himalaya, Tempat yang erat kaitannya latihan-latihan meditasi dalam  buku Self Empowerment

Kali ini, perjalanannya sudah terarah. Dia sudah memperoleh alamat Sang Guru. Dia tidak mengharapkan ujian lagi. Ya, selama itu kan dia diuji terus. Seperti tes masuk saja. Dia harus lulus, baru bisa masuk universitas. Ternyata Naropa salah. Masih ada satu ujian lagi.

Sesuai dengan alamat yang diberikan kepadanya, Naropa memang menemukan Tilopa. Tetapi aneh, dia dikerumuni oleh orang-orang cacat. Seperti gerombolan pengemis. Ada yang buta, ada yang tuli, ada yang bisu, ada yang pincang. Yang Iebih aneh lagi…. Dan bukan hanya aneh, tetapi seram — menyeramkan…….. Beberapa mayat, di antaranya ada yang duduk. Ada juga yang berdiri, berjalan.

Naropa bingung lagi. Sudah berhadapan dengan Sang Guru, dengan Mursyid, dengan Tilopa, Naropa masih juga bingung. “Inikah Guru yang kucari-cari? Kutinggalkan keluarga dan pekerjaan di Nalanda. Selama lebih dari satu tahun aku mengembara, mengelilingi India, dan hanya untuk mencari seorang Guru seperti ini?”

Masih tersisa arogansi di dalam dirinya, “Apa kata orang? Bila mereka bertanya, bagaimana jawabanku? Bahwa Guruku seperti ini, ini………….?”

Naropa masih sibuk berpikir, sementara Tilopa lenyap. Dan lenyap bersama dia, gerombolan pengemis dan mayat-mayat hidup itu.

“Naropa, Naropa — aku Tilopa. Kamu tidak mengenaliku. You missed me!

Tidak selalu mempercayai mata — itulah pelajaran kesebelas. Naropa memperolehnya dengan membayar mahal.

“Tidaaaaaaaaak….” Naropa menjadi histeris. Tidak, dia tidak mau kehilangan Tilopa. Dia menyadari kesalahannya, kesombongannya. “Lebih baik bunuh diri saja. Keakuan yang disebabkan oleh kesadaran jasmani telah menjauhkan aku dari Sang Guru.” — pikir Naropa.

Baru mau melemparkan diri dari atas bukit, muncul Tilopa: “Naropa, siapkah kamu untuk pelajaran berikutnya?”

Naropa tidak dapat menahan tangisnya. Dia menjatuhkan diri dan mencium kaki Sang Guru, “Maafkan aku, Guru…. Maafkan aku…..”

“Dengarkan Naropa…. Apa yang akan kusampaikan tidak dapat dilihat oleh mata kasat. Itulah sebabnya ada orang-orang buta tadi. Mata lahir mereka tertutup, tetapi mata batin terbuka.

“Apa yang akan kusampaikan tidak dapat didengarkan oleh sepasang telinga yang engkau miliki saat ini. Engkau membutuhkan alat pendengaran yang lain. Itulah sebabnya tadi kamu melihat para tuli.

”Setelah mendengarkan apa yang kusampaikan, engkau pun tak akan bisa mengungkapkannya lewat kata-kata. Seperti para bisu yang kau lihat tadi.

“Yang jelas, setelah engkau memperoleh yang satu itu, mundar-mandir ke dunia ini akan berhenti. Seperti si pincang yang enggan berjalan. Dia lebih suka duduk di satu tempat. Kecuali ada urusan yang penting sekali, baru berjalan.

“Setelah memperoleh yang satu itu, Naropa, engkau akan tetap bekerja, berkarya di dalam dunia, tetapi tanpa keterikatan. Engkau seperti mayat-mayat hidup yang terlihat tadi.”

Lewat pelajaran keduabelas bagi siswanya, Tilopa menyimpulkan beberapa hal:

bahwa ada “sesuatu” yang tak terungkapkan lewat kata-kata. Mata tak dapat melihatnya. Telinga tak bisa mendengarnya. “Sesuatu” itu harus dialami, dirasakan. Yang jelas, setelah “itu” seseorang terbebaskan dari keterikatan. Batin dia bebas. Jiwa dia ringan. Dan hidup pun menjadi perayaan.

“Katakan, Naropa — siapkah kamu untuk pelajaran berikutnya?”

Lupakan jawaban Naropa. Lupakan Tilopa. Ingat pertanyaannya: ”Siapkah kamu untuk pelajaran berikutnya?”

Bila siap, mari kita memasukinya………

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Tantra Yoga. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama)

4 Pelajaran Lanjutan Tilopa kepada Naropa dalam Kisah #TantraYoga

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , , on December 30, 2016 by triwidodo

buku-tantra-yoga-festival-di-hemis-gompa

Festival Tahunan Naropa di Vihara Hemis Leh Himalaya

Dia melihat orang dengan kedua kaki dan tangannya terikat. Tergeletak di atas rumput. Sementara clua orang lagi sedang menyiksa dia. Sudah pasti, mereka juga yang mengikatnya. Naropa mendekati mereka, “Apa-apaan kalian?”

Bukan urusanmu.” – jawab salah satu di antara mereka.

Astaga, ternyata orang yang tergeletak itu dibuka perutnya. Darah di mana-mana. Ususnya sudah di luar perut dan sedang dicuci oleh kcdua orang yang mengikatnya.

“Aach…. Kalian bukan manusia…….”

Naropa menyumpahi mereka, dan melanjutkan perjalanannya.

Eh, ternyata dia tertipu lagi: “Naropa, Naropa – aku Tilopa. Kamu tidak mengenaliku. You missed me!”

Naropa bingung. Bingung apa maksud Tilopa. Pelajaran apa yang hendak dia berikan. Baru muncul pertanyaan, jawaban pun terdengar jelas: “Seorang siswa harus dicuci bersih dulu. Baru diberi pelajaran baru. Cukup bernyalikah engkau, Naropa?” .

ltulah pelajaran kelima. Pelajaran yang penting sekali. Di ashram kami tidak membuka perut Anda. Tetapi isi perut dikeluarkan juga. Lewat latihan-latihan cleansing, pembersihan — pikiran, emosi, memori, trauma semuanya dimuntahkan ke luar. Setelah itu, Anda baru memasuki pelajaran lanjutan. Tanpa menjalani proses pembersihan, pelajaran yang Anda peroleh tak ada gunanya. Cawan masih kotor. Untuk apa dituangi susu? Semurni apa pun, susu itu akan rusak.

 

Cover Buku Tantra Yoga

buku-tantra-yoga

Pengalaman-pengalaman tadi menguras energi Naropa. Dia sudah capek sekali. Karena itu, ketika dia bertemu dengan seorang raja dan diundang ke istana, dia menerima undangannya.

Setelah istirahat penuh selama beberapa hari, Naropa siap untuk melanjutkan perjalanannya. Ketika mau pamit, dia ditahan oleh Sang Raja, “Brahmana, engkau berpendidikan tinggi. Dan rupanya belum berkeluarga. Nikahilah anakku.”

Naropa menolak, ”Saya ini seorang pengembara. Keluarga dan pekerjaan di Nalanda kutinggalkan untuk mengembara. Untuk mencari Guru Tilopa. Tidak, Baginda Raja, saya tidak bisa menerima tawaran Baginda.”

Sang Raja marah, ”Dasar Brahmana tidak tahu diri.” Dan memberi perintah agar Naropa dicambuki seratus kali.

Naropa pun tidak dapat menahan diri, ”Mau mencambuki aku? Cambuk itu dapat kuubah menjadi ular. Ayo, siapa yang berani?”

Tiba-tiba…….

Istana dan Raja dan para pengawal – semuanya lenyap…..

Ah, ah, ah — Naropa sudah tahu dia akan ditegur lagi. Betul, ”Naropa, Naropa — aku Tilopa. Kamu tidak rnengenaliku. You missed me.”

Pelajaran keenam – Pengendalian diri.

“Salahku juga,” — pikir Naropa, “Kalau mau cari kenyamanan istana, ya harus siap dicambuki juga.”

buku-tantra-yoga-foto-di-vihara-hemis-leh

Foto 2008 di Vihara Hemis Leh Himalaya tempat festival tahunan Naropa

Berikutnya, Naropa bertemu dengan seorang pemburu. Naropa menegur dia, “Untuk apa membunuh makhluk tak bersalah?”

“Aku ingin membersihkan hutanku dari hewan-hewan buas.” — jawab pemburu.

Naropa menggelengkan kepala, “Sombong banget kamu; hutanmu? Memang hutan ini milik kamu?”

Si pemburu tidak menjawab pertanyaan Naropa. Malah memberi nasihat: “Hutan harus dibersihkan dari hewan-hewan buas.”

Naropa tidak memahami maksudnya. Baru mau jalan, pemburu pun lenyap dan terdengar lagi suara Tilopa: “Naropa, Naropa — aku Tilopa. Kamu tidak mengenaliku. You missed me!

Naropa baru sadar bahwa yang dimaksud adalah “hutan diri”, yang harus dibersihkan dari sifat-sifat hewani. Dari kebuasan dan keliaran. Itulah pelajaran ketujuh.

Di zaman sekarang ini, Guru seperti Tilopa sudah pasti tidak laku. Mana ada Naropa yang mau berguru sama dia? Tilopa sungguh beruntung. Lahir seribu tahun yang lalu. Masih bisa mendapatkan seorang Naropa!

Naropa seorang murid berkualitas prima. Mungkin Keberadaan sudah tidak lagi memproduksi kualitas-Naropa.

Dia tidak putus asa. Dia melanjutkan perjalanan serta pencariannya. Pada suatu sore dia melewati gubuk sepasang suami istri yang sudah tua, “Brahmana, masukilah gubuk kami. Sudah bertahun-tahun, tidak ada yang bertamu ke sini.”

Naropa menerima undangan mereka. Gubuk mereka kccil sekali. Satu kamar menjadi ruang tamu, ruang makan, ruang tidur dan sekaligus dapur.

Ketika Naropa melihat Wanita tua memasak, dia merasa jijik. Ikan dan kodok dan entah daging apa lagi yang sedang dia masak. Sebagai seorang Brahmana, dari kasta tinggi, Naropa tidak pernah makan daging. Bahkan menyentuh pun belum. Baru mau bicara……. Tuan Rumah mendahuluinya, ”Kami tahu, anda tidak akan makan. Biasanya para Brahmana tidak menyentuh makanan setelah matahari terbenam. Dan saat ini rnatahari sudah terbenam.”

“SialanI” — pikir Naropa. Lalu untuk apa mengundang? Padahal dia sudah lapar.

Sementara si tua membisiki isterinya, ”Orang ini pengikut ajaran rendahan. Tidak seperti kita. Dia tidak akan makan daging.”

Bisikan itu terdengar oleh Naropa.

“Ajaran rendahan? Aku menganut ajaran rendahan? Aku, Naropa……..? Dia pikir dirinya siapa, sudah hebat? Sudah tercerahkan?”

Darah Naropa sudah mulai mendidih. Baru mau meledak, gubuk itu lenyap. Lenyap pula suami, isteri dan makanan mereka.

Lagi-lagi, terdengar teguran Tilopa: ”Naropa, Naropa — aku Tilopa. Kamu tidak mengenaliku.

You missed me!

Pelajaran kedelapan: Jangan membedakan derajat. Ini rendah, itu tinggi. Semuanya ilusif. Saat ini ada, saat berikutnya tidak ada.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Tantra Yoga. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama)

4 Pelajaran Awal Tilopa kepada Naropa, Kisah dalam #TantraYoga

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , , on December 27, 2016 by triwidodo

buku-tantra-yoga-festival-naropa

Festival Tahunan Naropa di Vihara Hemis Leh Himalaya

Dan mulailah pengembaraan Naropa….

Selama lebih dari satu tahun, dia keliling India. Dari selatan ke utara, kemudian ke arah timur. Modalnya hanya satu — intuisi, ilham, karena tak seorang pun bisa memberi petunjuk tentang Tilopa, tak seorang pun pernah dengar nama itu. Naropa tidak putus asa. Dia mencari terus.

Banyak pengalaman yang diperolehnya dalam perjalanan. Ada beberapa yang sangat menarik:

Pertama, dia bertemu dengan seorang wanita tua berpenyakit kusta. Melihat Naropa, dia menegurnya: “Sepertinya kamu seorang Brahmana. Mau ke mana?”

“Sedang mencari seseorang bernama Tilopa.”  jawab Naropa.

“Ah, Tilopa!” — dari cara wanita itu menyaut dan menyebut nama Tilopa, Naropa pikir dia mengenalinya.

“Kamu kenal dia?” — tanya Naropa.

“Tidak, tidak. Siapa yang mau berkenalan dengan saya? Sudah tua, berpenyakit kusta lagi. Sudah dua hari aku mencari seseorang yang bisa menggantikan perban di kakiku. Tidak ada yang bersedia. Takut ketularan penyakitku.”

Naropa cepat-cepat menyalami dia dan melanjutkan perjalanannya. “Tidak,” – pikir dia, “Aku pun tidak akan mengganti perbanmu. Kalau ketular ….”

Baru berjalan sebentar, dari belakang ada yang memanggil nama dia: “Naropa, Naropa — aku Tilopa. Kamu tidak mengenaliku. You missed me!”

Naropa menoleh ke belakang, ”Jangan, jangan…..” Eh betul, wanita tua itu sudah lenyap. Berarti dia Tilopa. Menyamar sebagai wanita tua berpenyakit kusta.

Naropa menyesali ketidakpeduliannya terhadap penderitaan orang lain. Sang Mursyid, Sang Guru, Tilopa sudah mulai memberi pelajaran kepada Naropa. Peduli terhadap penderitaan orang lain — itulah pelajaran pertama yang diperolehnya.

buku-tantra-yoga

Cover Buku Tantra Yoga

Selanjutnya, selama berbulan-bulan — Naropa akan mendekati setiap orang sakit yang dijumpainya dalam perjalanan. Dia akan membantu mereka, mendengarkan kisah mereka. Berupaya untuk meringankan penderitaan mereka. Tetapi sernua itu dia lakukan dengan harapan, “Siapa tahu, Tilopa ada di antara mercka.” Ternyata tidak ada. Murid Iain akan putus asa. Naropa tidak putus asa. Dia melanjurkan pengembaraannya.

Pada suatu hari, Naropa digonggongi oleh seekor anjing. Anjing biasa, anjing jalanan. Kemana pun Naropa pergi, dia akan membuntutinya. Menggonggonginya. Tidak melakukan apa-apa lagi. Cuma menggonggongi dan membuntuti Naropa. Eh, Naropa kesal juga. Dilempari batu. Kena kaki anjing dan keluar darah. Tetapi langsung diam. Naropa baru menoleh ke depan, ada yang menegurnya: “Naropa, Naropa — aku Tilopa. Kamu tidak mengenaliku. You missed me.”

Suara sama, suara Tilopa. Ternyata anjing itu pun ….. Ya, seorang Mursyid bisa melakukan apa saja, bisa “menjadi” apa saja — demi kebaikan muridnya.

Naropa pun sadar bahwa dia tidak boleh membedakan hewan dari manusia. Kasih dia terhadap semua makhluk hidup harus sama dan sebanding. Lagipula, anjing itu kan hanya menggonggongi dia, hanya membuntuti dia. Tidak melukai dia, tidak melakukan apa-apa. Kenapa harus dilempari batu? Itulah pelajaran kedua yang diperolehnya.

Tidak lama kemudian, dia bertemu dengan seorang penjual kayu. Naropa bertanya, “Apakah kamu pernah mendengar nama Tilopa?” Saat itu Naropa berada di Bengal, dan somehow dia yakin bahwa akan bertemu dengan Tilopa di negara bagian terscbut. Si penjual kayu malah bertanya kembali, “Untuk apa mencari Tilopa?”

“Aku ingin berguru…. Ingin belajar di bawah bimbingannya?” – jawab Nampa.

“Pelajaran itu beban. Persis seperti kayu yang kupikul. Aku masih bisa menjual kayu ini. Bisa memperoleh uang. Engkau bisa dapat apa? Kalau sudah belajar, mau diapakan pelajaran itu?”

Naropa sempat kesal. Terus berpikir kembali,

“Untuk apa berdebat dengan orang bodoh?” Maka dia menyalaminya dan hendak pergi.

Baru mau jalan. … orang itu lenyap. Terdengar kembali suara yang ia kenal: “Naropa, Naropa aku Tilopa. Kamu tidak mengenaliku. You missed me!

“Wah, goblok benar aku.” – pikir Naropa. Setiap kali nggak ngenalin Sang Guru. Pelajaran ketiga bagi dia — jangan menganggap remeh siapa pun juga.

buku-tantra-yoga-di-leh-ladakh

Foto rombongan tahun 2008 di Vihara Hemis Leh dengan latar belakang Gambar Naropa

 

Naropa melanjutkan perjalanan dan pencariannya. Pada suatu hari, dia bertemu dengan seorang penjaga tempat perabuan mayat. Dia sedang meremukkan tulang-tulang yang tidak terbakar. Biasanya abu dan sisa tulang itu akan dihanyutkan ke dalam sungai. Yang aneh, Naropa melihat ratusan tengkorak: “Begitu banyak orang yang meninggal pada hari yang sama?”

“Ya, ya — banyak sekali. Mau bantu?” — tanya si penjaga.

“Ogah ah, pikir Naropa.” Dan baru mau melanjutkan perjalanan, si penjaga lenyap. Naropa mendengar suara Tilopa: “Naropa, Naropa – aku Tilopa. Kamu tidak rnengenaliku. You missed me.”

Pelajaran keempat: Pekerjaan adalah pekerjaan. Jangan menganggap yang satu lebih baik daripada yang lain.

Seorang penjaga tempat perabuan sedang bekerja demi sesuap nasi. Dia sedang mencari nafkah. Seorang Naropa sedang mencari pencerahan. Setiap orang sedang mencari. Dan selama pencarian kita belum berhenti, kita semua sama. Yang sedang mencari harta, takhta, dan wanita, kita anggap orang biasa. Manusia biasa. Yang sedang mencari pencerahan, kesadaran, Tuhan, kita anggap manusia Iuar biasa. Orang hebat. Padahal sami mawon. Semuanya masih lapar. Masih belum kenyang.

Tidak lama kemudian…….. berlanjut…….

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Tantra Yoga. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama)

Kejenuhan Mojud melakoni “yang benar dan tidak benar” dan Panduan Khidir

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on November 7, 2016 by triwidodo

 

buku-paramhansa-mojud-jhulelal

Mojud adalah seorang pegawai negeri biasa. Sehari-hari ia bekerja sebagai pengawas tirnbangan dan ukuran. Pekerjaannya menuntut disiplin yang tinggi sekali. Setiap pengusaha, setiap pedagang yang berurusan dengan timbangan dan ukuran, harus memeriksakan timbangannya atau meterannya secara berkala. Mojud harus mengujinya. Apabila sesuai dengan standar yang sudah ditetapkan, ia akan memberi stempel ”Telah Diuji”. Apabila tidak sesuai, meteran atau timbangan tersebut akan ditarik kembali,dimusnahkan. Dan para pengusaha harus beli yang baru.

Jabatan itu memang cukup “basah”. Mojud bisa saja menyalahgunakan wewenangnya. Setiap kali ada saja seorang pengusaha yang ingin menyuap dia, tetapi Mojud tidak pernah tergoda, bahkan ia mulai merasa jenuh. Setiap hari ia meneliti keabsahan, kebenaran timbangan dan meteran—setiap hari memilah antara yang “benar” dan “tidak benar”. Pada suatu ketika ia mulai bertanya kepada dirinya sendiri, ”Hanya untuk inikah aku berada di dunia ini?”

Sewaktu masih kecil, ia disuruh memilih antara Setan dan Tuhan. Lantas, ia disuruh memilih antara Sorga dan Neraka. Sekarang, antara yang benar dan yang tidak benar. Sungguh memuakkan. Dan akhirnya, ia berontak, “Allah, Tuhan—hanya untuk inikah aku berada di dunia ini?”

Ia mendatangi para suci, “Muak sudah aku dengan pekerjaan yang menjenuhkan ini. Setiap hari, aku berhadapan dengan ‘yang benar’ dan ’yang tidak benar’. Inikah satu-satunya kenyataan hidup? Haruskah aku meneruskan pekerjaan ini sampai akhir hayat? Hanya untuk inikah aku beracla di dunia ini?”

Para suci menjawab, ”Mojud, kami tidak sanggup menjawab pertanyaanmu, karena kami sendiri belum bisa melampaui dualitas. Kami sendiri masih terombang-ambing antara ’yang benar’ dan ‘yang ticlak benar’. Yang bisa menjawab pertanyaanmu hanyalah Dia, yang sudah melampaui dualitas tersebut.”

“Adakah orang yang telah melampauinya? Kalau tidak ada, sia-sialah hidupku ini. Entah sejak kapan, aku berlari di tempat. Aku tidak mengalami peningkatan kesadaran sama sekali. Dari dulu yang kulakukan hanyalah mernilah ancara ‘yang benar’ dan ’yang tidak benar.”

“Ada, Mojud. Ada satu orang yang telah melampaui dualitas antara ’yang benar’ clan ’yang tidak benar’. Nabi Khidir—Beliaulah satu-satunya manusia yang telah melampaui dualitas. Beliau senantiasa berada dalam ketauhidan AlIah.”—para suci menjawab. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Otobiografi Paramhansa Yogananda, Meniti Kehidupan bersama para Yogi, Fakir dan Mistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

buku-paramhansa

Cover Buku Otobiografi Paramhansa Yogananda

“Dan bagaimana aku rnenemukan Beliau—ke mana aku rnencarinya?”—tanya Mojud.

“Itu susahnya. Beliau tidak bisa dicari. Apabila kamu sudah siap, Beliau akan menemui kamu sendiri. Kamu tidak perlu mencarinya ke mana-mana.”

“Lantas—apa yang harus kulakukan? Persiapan apa yang dibutuhkan?”

“Kejenuhanmu—itulah persiapan yang kau butuhkan. Semakin jenuh kamu, semakin siap pula kamu.”

Semakin lama, Mojud semakin jenuh. Usaha memilah antara ”yang benar” dan “yang tidak benar” memang sangat menjenuhkan!

Dan pada suatu ketika, Nabi Khidir pun muncul, “Mojud, rnatang sudah kejenuhanmu. Sekarang kamu sudah siap untuk sesuatu yang lebih tinggi nilainya, daripada sekadar memilah antara ’yang benar’ clan ‘yang tidak benar’. Tinggalkan pekerjaanmu.”

Mojud memang sudah siap betul. Langsung saja, ia meninggalkan pekerjaannya. Sanak-saudara, kawan dan lawan bertanya, “Mojud, apa yang akan kau lakukan?”

Mojud menjawab, “Aku tidak tahu.“

“Dan, kau meninggalkan pekerjaan yang begitu mulia—pekerjaan yang tidak gampang diperoleh. Begitu banyak orang yang ingin mendapatkan jabatanmu.”

“Kuucapkan selamat kepada rnereka. Aku sudah jenuh memilah antara ’yang benar’ dan ’yang tidak benar’.”—tegas Mojud.

“Mojud, kau gila—kau tololl”

”Mungkin!”

Nabi Khidir muncul lagi, ”Mojud, kamu tidak terpengaruh oleh pendapat umum. Sekarang kamu siap untuk sesuatu yang lebih berharga lagi. Lepaskan bajumu, jatuhkan dirimu ke dalam sungai yang mengalir itu. Biarkan aliran sungai menuntun kamu. jangan berusaha untuk menyelamatkan dirimu.”

Mojud tidak berpikir dua kali. Ia merobek bajunya, dan menjatuhkan dirinya ke dalam sungai. Ia membiarkan arus sungai menuntun dia. Seorang nelayan yang menyaksikan kejadian itu dari kejahuan bergegas menyelamatkan Mojud, ”Kamu ingin bunuh diri?”

“Tidak.”

“Lantas, kenapa kamu menjatuhkan dirimu ke dalam sungai? Arusnya sedang kuat, kamu bisa tenggelam. Apa yang hendak kau lakukan?”

”Aku tidak tahu.”

“Kamu betul-betul edan!” Kendati demikian, si nelayan tetap juga menyelamatkan nyawa Mojud dan mengajaknya ke perkampungan para nelayan. Selama beberapa bulan, Mojud tinggal bersama para nelayan, belajar memancing ikan dan membantu mereka.

Pada suatu malam, Nabi Khidir mendatangi dia lagi, “Selesai sudah pelajaranmu tahap pertama. Sekarang tinggalkan tempat ini. Pergilah ke daerah lain.”

Mojud meninggalkan perkampungan para nelayan dan berangkat ke daerah lain. Dia bertemu dengan seorang petani, “Sepertinya, kamu tidak punya pekerjaan tetap. Saya kebetulan sedang mencari pembantu. Ikutilah saya.”

Dari majikannya yang baru, Mojud belajar bercocok-tanam. Ia belajar mencintai bumi. Selama dua tahun bekerja di ladang—ia memperoleh upah. Sekarang ia memiliki tabungan.

Nabi Khidir menampakkan dirinya lagi, “Pelajaran tahap kedua pun sudah selesai. Tinggalkan kampung ini, pergilah ke kota. Gunakan tabunganmu untuk berdagang jual-beli kulit.”

Itu pula yang dilakukan oleh Mojud. Dan ia berhasil memperoleh keuntungan yang cukup besar. Tiga tahun kemudian, Nabi Khidir mendatangi dia lagi, ”Berikan seluruh penghasilanmu kepadaku. Tinggalkan kota ini, pergilah ke Samarkand. Kamu akan bertemu dengan seorang pedagang. Layanilah dia.”

Mojud tidak pernah membantah, tidak pernah mempertanyakan kebijakan Nabi Khidir. Hari itu juga, ia berangkat ke Samarkand. Dalarn perjalanan ia bertemu dengan orang-orang sakit. Ia hanya menyalami mereka, menyentuh mereka—dan mereka langsung sembuh.

Mojud pun bingung, apa yang terjadi! Di Samarkand, sambil melayani majikannya, kejadian-kejadian serupa akan terulangi lagi. Semakin lama, semakin sering. Berduyun-duyun, anak-cucu Adam mendatangi dia hanya untuk melihat wajahnya, hanya untuk menyentuh jubahnya.

Para penulis, penyair dan pemikir mendatangi dia, “Guru, kami ingin menulis kisah hidupmu. Ceritakan sedikit tentang dirimu.”

”Al<u Mojud—Aku Ada!”

”Maksud kami—apa yang Guru lakukan dulu?”

“Dulu, aku seorang pegawai negeri.”

Mereka rnengira bahwa dulu ia seorang raja, seorang sultan—dan mereka mengira bahwa ia sedang merendah saja, “Jadi Guru meninggalkan semuanya itu demi pencarian spiritual?”

“Saya meninggalkan semuanya itu, karena saya jenuh. Bukan demi sesuatu apa pun.”—tegas Mojud.

Mereka tetap juga tidak memahami Mojud, “Apa yang Guru lakukan setelah itu?”

”Saya mengikuti aliran sungai. Lantas nyawa saya terselamatkan. Setelah itu, saya mulai rnenangkap ikan, bercocok-tanam, lalu mejadi pedagang kulit. Sekarang membantu majikan di sini. Demikianlah kisah hidupku. Siapa yang akan tertarik untuk membaca buku kalian?”—giliran Mojud rnengajukan pertanyaan.

Para pemikir menjadi sangat bingung. Mereka mengurungkan niat mereka untuk menulis tentang Mojud.

Para penulis pun bingung, namun tidak mengurungkan niat mereka untuk menulis tentang Mojud. Dalam kebingungan itu, setiap orang di antara mereka menulis kisah hidup Mojud, sesuai dengan pemahaman mereka masing-masing.

Para penyair menyentuh jubah Mojud, mencium tangannya, dan mulai rnenari. Saya dengar, sampai sekarang pun mereka masih menari. Dan Mojud pun ikut menari bersama mereka!

yang Memenangkan Perang bukan Saya tetapi Krishna

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on October 30, 2016 by triwidodo

buku-shangrila-krishna-sais-arjuna

Sore itu, Joseph dan Devi juga duduk bersama mereka. Duduk dalam keheningan, sambil memperhatikan napas. Mata mereka tertutup. Setengah  jam kemudian, Sang Guru mempersilakan mereka untuk membuka mata:

“Selama perang Bharatayudha, Krishna menjadi sais kereta Arjuna. Kisah ini sarat dengan makna. Krishna sebagai sais kereta….. ah!”

Anand Giri berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Jadikan Tuhan sebagai Sais Kereta Kehidupanmu. Biarkan Dia menuntunmu. Jangan meragukan, menyangsikan kebijakan-Nya. Mau dibawa ke mana saja, jangan mengeluh. Dia Maha Tahu. Jangan sok pintar. Jika berhadapan dengan seorang Krishna, jadilah bodoh. Jangan banyak bicara, dengarkan Dia……..

buku-shangrila

Cover Buku Shangrila

“Arjuna tahu persis, Krishna itu siapa. Tetapi, lagi-lagi kesadarannya merosot. Seusai perang Bharatayudha, ketika keretanya sudah sampai di depan tendanya, sebagaimana biasanya Arjuna menunggu Krishna untuk turun dulu dan membuka pintu untuk dia. Bayangkan, scorang Arjuna yang sudah tahu kesejatian Krishna masih juga memperlakukan Krishna sebagai sais biasa. Sebagai sopir. Tunggu sopir membuka pintu mobil, baru turun.

“Demikianlah ego para Arjuna. Dan Arjuna bisa ditemukan dalam diri setiap orang. Jangan menertawakan ketololan Arjuna, karena dia juga ada dalam diri kalian.

“Hari itu, Krishna tidak mau turun. Arjuna pun pura-pura membenahi bajunya. Mengangkt senjatanya, kemudian menaruhnya kembali untuk diangkat Iagi. Dia masih tunggu Krishna turun.

“Krishna yang sedang memperhatikan gerak-gerik Arjuna, akhirnya mempersilakan Arjuna

turun, ’Turun dulu, Arjuna…’

“’Turun dulu.’—pikir Arjuna, ’Nggak salah?!’ Kesal, tetapi dia tidak berani mcmbantah Krishna. Mukanya masam. Dia turun dan melangkah cepat menuju kemahnya tanpa menyalami Krishna.

“Sementara itu, Krishna pun langsung turun. Dan begitu turun, kereta yang dia bawa selama berrhari-hari meledak sambil mengcluarkan suara dahsyat. Arjuna menoleh ke belakang, ’Astaga, keretanya hancur, terbakar.’

“’Apa yang terjadi, Krishna?’ tanya Arjuna.

“Krishna rnenjawab, ‘Keretamu ini sudah berulang kali diserang oleh musuh. Kalau masih utuh, itu hanya karena Aku masih ada di dalamnya. Sekarang Aku turun dan selesai sudah tugas kereta ini, maka Aku biarkan hancur.’

“Arjuna sadar kembali bahwa kemenangan yang dia peroleh di medan perang Kurukshetra, bukan karena keahliannya, tetapi semata-mata karena Krishna. Tanpa Krishna, mungkin dia sudah ikut hancur lebur bersama keretanya.

“Renungkan kisah ini. Dan temukan Arjuna yang bersemayam di dalam diri kalian. Sadarkan dia bahwa apa pun yang terjadi, terjadi hanya karena Krishna. Bukan karena dia…..”

Anand Giri memejamkan kembali matanya. Para murid menerima isyarat Sang Guru. Jika ia memejamkan mata, mereka pun ikut memejamkan mata.

Dvarapala, 2 Penjaga Setia Istana Vishnu Lahir ke Dunia Melawan Avatara Vishnu

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on October 25, 2016 by triwidodo

buku-si-goblok-arca-dwarapala

Intensitas perasaan dan ingatan terhadap Tuhan

“Saat Anda benar-benar mengingat seseorang, semua yang berada di sekeliling Anda bisa memberikan kenangan akan orang tersebut. Orang tersebut bisa jadi yang Anda cintai atau benci. Ini tak ada hubungannya dengan cinta dan benci; ini lebih kepada intensitas perasaan dan ingatan.”

“Para Sufi dan mistik para kekasih Tuhan, melihat wajah-Nya di mana-mana. Mereka mengingat Tuhan melalui cinta dan intensitas perasaan yang berperan di sini.”

“Bagaimana dengan mereka yang mengingat Tuhan dengan cara penyesalan dan kebencian mendalam? Mungkin, bahkan bagi orang-orang ini, mereka melihat juga wajah Tuhan di mana-mana. Sekali lagi, intensitas perasaan yang berperan di sini. Kalangan radikal yang membunuh atas nama Tuhan dan agama-Nya bisa jadi mengalami intensitas perasaan yang begitu hebat.”

“Intensitas, suatu hal mendasar yang hilang dalam kehidupan kita kini. Kita tidak menjalani kehidupan secara intens. Kita menjalaninya biasa-biasa saja. Karena itulah kita kurang bahagia. Intensitas dan kebahagiaan berjalan beriringan.”  Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2009). Si Goblok, Catatan Perjalanan Orang Gila. Koperasi Global Anand Krishna)

 

Menjalankan “peran jahat sesuai skenario Sutradara”, sebaik mungkin

Berikut kisah Hiranyaksa dan Hiranyakasipu yang membenci Sri Vishnu, Ravana dan Kumbakarna yang membenci Sri Rama, serta Sisupala dan Dantavakra yang membenci Sri Krishna. Mungkinkah mereka hanya menjalankan peran jahat sesuai skenario Sang Sutradara yang diberikan kepada mereka, agar umat manusia belajar dari kisah mereka? Dan, setelah selesai mereka keluar dari panggung dunia? Moksa? Berikut kutipan dari Penjelasan Bhagavad Gita….

 

“Kelahiran dan kematian; suka dan duka adalah tuntutan ‘peran’ yang dimainkan oleh para pemain di atas panggung. Ketika ‘peran’ itu berakhir, si pemain tidak ikut berakhir dengannya. Ia bisa muncul lagi dalam periode berikutnya, melanjutkan perannya. Atau, bahkan memainkan peran lain. Atau muncul dalam kisah lain.”

…………….

Krsna meyakinkan kita bahwa jika kesadaran kita terpusatkan pada Sang Aku Sejati, pada Sang Jiwa Agung, maka kita tidak perlu mati dengan cara yang mengenaskan itu. Kita bisa mati sambil tersenyum, “Terima kasih peranku sudah selesai!” Penjelasan Bhagavad Gita 7:14 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Silakan simak kisah lengkap pada Tautan di bawah ini:

buku-si-goblok

Cover Buku Si Goblok

buku-bhagavad-gita

Cover Buku Bhagavad Gita

 

Penjaga Gerbang Istana Dua Raksasa Dwarapala

Kita melihat gambar dua penjaga Raksasa Dwarapala di depan istana dalam “Gunungan” wayang kulit. Demikian juga di kiri-kanan gerbang gedung megah sering terdapat sepasang arca raksasa memegang gada.

Dua raksasa yang bernama Jaya dan Vijaya tersebut juga diabadikan sebagai nama pegunungan di Papua sebagai penjaga pintu gerbang Indonesia di sebelah timur oleh Presiden pertama RI, Soekarno……

Mereka adalah penjaga gerbang setia di Vaikuntha, Istana Vishnu.

Dikisahkan Vishnu ingin suasana tak terganggu saat berdua dengan istrinya Lakshmi. Jaya dan Wijaya diinstruksikan untuk tidak mengizinkan semua pengunjung masuk istana.

Empat tamu, para putra Brahma telah mempunyai janji untuk bertemu dengan Vishnu, akan tetapi Jaya dan Wijaya menolak mereka masuk ke dalam istana. Ke empat tamu tersebut marah dan salah satunya Resi Sanaka memberi kutukan bahwa ke dua raksasa penjaga tersebut akan turun di dunia dan lahir dua belas kali sebagai musuh Vishnu, dewa yang selama ini menjadi pelindungnya.

Pada saat pertengkaran itu, Vishnu muncul di depan mereka. Bertobat atas kebodohan dan keangkuhan mereka, Jaya dan Vijaya memohon Vishnu untuk membebaskan mereka dari kutukan sang tamu. Vishnu mengatakan bahwa dia tidak bisa membatalkan kutukan, tapi bisa mengurangi intensitasnya. Dia memberi mereka dua pilihan: mereka bisa memilih opsi pertama untuk lahir di dunia sebanyak 7 (tujuh) kali sebagai bhakta, devoti Vishnu; atau opsi kedua untuk lahir di dunia sebanyak 3 (tiga) kali sebagai musuh bebuyutan Vishnu. Vishnu mengatakan kepada mereka bahwa setelah menjalani salah satu dari dua opsi tersebut, mereka akan bisa kembali ke Vaikuntha dan menduduki posisi semula sebagai Dwarapala.

Jaya dan Vijaya bahkan tidak bisa membayangkan berada jauh dari Vishnu selama tujuh kali kehidupan di dunia. Oleh karena itu, mereka memilih untuk menjadi musuh bebuyutan Vishnu selama tiga kali kelahiran. Dengan cara itu, mereka pikir mereka juga akan mampu mencapai moksa di tangan Vishnu yang mereka cintai.

Jalan yang biasa ditempuh manusia untuk “Menyatu dengan Gusti” adalah dengan cara berbuat kebaikan. Jalan yang ditempuh Jaya dan Vijaya adalah jalan pintas tercepat, setiap saat dalam kehidupan di dunia, mereka hanya berpikir tentang musuh mereka yaitu Vishnu, tak ada waktu senggangpun tanpa berpikir tentang Vishnu musuhnya. Pikiran, ucapan dan tindakan mereka hanya terfokus pada Vishnu, musuhnya di dunia dengan intensitas yang sangat tinggi. Onepointedness, ekagrata negatif….. itu sangat sulit…….. dan negatif atau positif itu adalah hasil pikiran kita, dan Dia Sang Misteri Agung di luar pemikiran kita…… bagi Dia siapa tahu yang penting justru intensitasnya?

 

Tiga kali kelahiran di dunia sebagai musuh Vishnu

Pada zaman Satya Yuga, Jaya dan Vijaya pertama kali lahir sebagai saudara kembar iblis, Hiranyaksha dan Hiranyakashipu. Hiranyaksha mati dibunuh Vishnu yang mewujud sebagai Varaha, babi hutan raksasa, sedangkan Hiranyakashipu dibunuh oleh Vishnu yang mewujud sebagai Narasimha, raksasa yang berkepala singa.

Pada zaman Treta Yuga, Jaya dan Vijaya kemudian mengambil kelahiran kedua sebagai Ravana dan Kumbakarna, yang terbunuh oleh Vishnu yang mewujud sebagai Sri Rama.

Akhirnya, di zaman Dwapara Yuga, Jaya dan Vijaya lahir sebagai Sisupala dan Dantavakra dibunuh oleh Vishnu yang mewujud sebagai Sri Krishna.

Sisupala dan Dantavakra tersenyum menjelang kematian mereka, terbunuh oleh senjata Chakra Sri Krishna. Seakan-akan mereka berkata, “Terima kasih Vasudeva, peranku di dunia telah selesai!” Pikiran mereka hanya terfokus pada Sri Krishna, seperti tertulis dalam Penjelasan Bhagavad Gita 7:14 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Demikianlah salah satu kisah dalam buku Srimad Bhagavatam .

Mungkinkah Duryodana dan Shakuni juga hanya menjalankan peran jahat yang diberikan kepada mereka? Mereka dihujat bahkan sampai kini. Tak ada orang yang menamakan putranya dengan nama mereka. Kisah mereka membuat umat manusia sadar dan tidak ingin menjadi mereka. Itukah sebabnya di salah satu versi, saat Pandawa masuk surga mereka telah melihat para Korawa telah masuk surga duluan???  Bagi kita yang penting hikmah yang kita peroleh dari berbagai versi kisah….. apa pun versi kisah itu……..

Foto salah satu Dvarapala di Alun-Alun Utara Surakarta.

Kisah Raja Janaka, Pentingnya Mengingat Kematian

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on October 23, 2016 by triwidodo

buku-tetap-waras-jaman-edan-malaikat-elmaut

“Sang Nabi pernah bersabda: Perbanyaklah mengingat kematian. Seorang hamba yang banyak mengingat mati maka Allah akan menghidupkan hatinya dan diringankan baginya akan sakitnya kematian. Selalu mengingat kematian merupakan salah satu cara meditasi yang sudah berusia ribuan tahun. Suatu cara kuno sekali, yang sudah lama dikenal oleh para mistik Timur. Selalu mengingat kematian juga merupakan salah satu cara yang paling gampang untuk memasuki alam tafakkur. Apa yang kita sebut ‘meditasi’ dalam bahasa Arab disebut tafakkur. Selalu mengingat kematian tidak akan menjadikan kita pesimis terhadap kehidupan tidak sama sekali. Justru akan menjadikan kita sangat ‘dinamis’. Kita akan selalu sadar. Sadar sepenuhnya, sadar senantiasa sadar akan tanggung jawab kita terhadap lingkungan.” Dikutip dari Pesan Bapak Anand Krishna di tahun 2.000

Berikut sebuah kisah indah Raja Janaka mengingatkan seorang pemuda tentang pentingnya mengingat kematian seperti yang tertulis dalam buku: (Krishna, Anand. (1998). Tetap Waras di Jaman Edan, Visi Ronggowarsito Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

buku-tetap-waras-jaman-edan

Cover Buku Tetap Waras di Zaman Edan

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

………….

Setelah menyelesaikan pendidikannya, seorang anak muda menghadapi ayahnya, seorang pertapa. Dengan penuh semangat, ia bercerita tentang jurus-jurus ilmu yang dikuasainya. Pemuda itu merasa sudah menguasai segala bidang ilmu dan bangga bahwa dapat melakukan hal itu dalam waktu yang singkat Jekali.

Sang Pertapa mencium arogansi anaknya, “Nak kau memang sudah menguasai berbagai cabang ilmu. Tetapi menurut pendapatku, masih ada suatu bidang yang belum kau kuasai. Pergilah menghadap Raja Janaka, teman baikku. Ia akan mengajarkan apa yang belum kau kuasai itu.”

“Belajar dari seorang Raja, ayah? Apa yang ia ketahui tentang spiritualitas? Seorang raja hidup mewah, dikelilingi oleh benda-benda materi, yang justru membuat kita terikat pada dunia benda ini. Apa yang dapat aku peroleh dari dia?”—pemuda itu agak bingung.

“Kau belum pernah bertemu dengan dia, nak. Jangan punya prasangka dan praduga terbadap sesuatu yang belum kau alami sendiri. Pergilah menghadap Raja ]anaka”—demikian nasihat sang pertapa.

Walaupun tidak puas dengan penjelasan ayahnya, ia tidak ingin membantah. Ia mohon pamit dan langsung pergi menghadap Sang Raja.

Hari sudah sore ketika pemuda itu sampai di istana, dan sang raja sedang beristirahat di ruang pribadinya. Karena tidak ingin tinggal lama di suatu tempat yang ia anggap “sangat duniawi”, pemuda itu mohon agar bisa diterima segera. Begitu diberitahu oleh penjaga, Sang Raja pun langsung menerima pemuda itu, “Putra sahabatku, kau telah memberkati istana ini dengan kunjunganmu. Apa yang dapat kulakukan untukmu? Bagaimana dengan ayahmu, baik-baik saja kan?”

“Semuanya baik-baik saja, Baginda Raja. Sebenarnya aku di suruh ke sini untuk mendapatkan suatu pelajaran yang menurut ayah, hanya aku peroleh di sini” – sang pemuda menjelaskan tujuannya, sambil melirik kanan dan kiri. Ia rnelihat Sang Raja dikerumuni oleh permaisurinya, oleh para pelayan wanita, mungkin selir-selirnya. Ranjangnya empuk dan ruang itu sangat mewah sekali. Dalam hati, ia berpikir, “Entah pelajaran apa yang dapat aku peroleh  dari manusia yang sangat duniawi ini?”

“Sebenarnya kami tidak layak untuk memperoleh kehormatan dan kepercayaan yang dilimpahkan ayahmu kepada kami. Kami menganggapnya sebagai perintah. Baiklah, kami siap melaksanakan. Besok pagi, kita akan mulai belajar. Sementara, putra sahabatku, beristirahatlah malam ini. Kan pasti sudah lelah.”

Pemuda itu diantar ke salah satu ruang yang disediakan untuk para tamu khusus. Sebenarnya ia tidak ingin berada lama-lama di istana. Ia menganggapnya sebagai tempat maksiat, di mana yang berkuasa adalah “setan kesenangan duniawi”. Tetapi ia harus mengindahkan perintah ayahnya, walaupun dalam hati kecilnya ia sudah mulai menyangsikan kebijakan ayahnya,

Begitu masuk dalam ruangan, ia menemukan ranjang yang sangat empuk. la menghindari dirinya duduk di atas ranjang itu. Selama bertahun-tahun ia memperoleb pelajaran bahwa Tuhan hanya dapat ditemukan dalam keadaan prihatin. Tuhan berada di balik tangisan para yatim piatu, di balik jeritan para janda— demikian yang ia pelajari selama ini. Belum ada yang mengajarkan kepadanya bahwa Tuhan berada di balik kemewahan dan hal-hal yang berbau “duniawi”. Ia memutuskan tidak akan menggunakan ranjang itu.

Ia berusaha tidur di atas lantai marmer yang tidak beralas. Permadani pun dianggapnya barang mewah. Ia menghndari segala kemewahan duniawi. Karena memang sudah lelah, ia ketiduran. Tetapi tengah malam, ia terbangun karena mimpinya yang sangat menakutkan. Ia mimpi sedang tidur di atas ranjang yang empuk itu dan sedang menikmatinya. la mengutuk dirinya, mengutuk mimpinya, “bagaimana aku, seorang pertapa, dapat mimpi sedang tidur di atas ranjang yang empuk  dan malah menikmatinya?!” Ia berusaha tidur lagi, tetapi tidak bisa. Sebentar-sebentar ia melirik ke arah ranjang itu dan mengingat kembali mimpinya. Betapa nyamannya ranjang yang empuk itu, betapa enaknya tidur di atas ranjang itu!

Akhirnya, ia tidak dapat menahan  diri. Ia toh sendirian dalam ruangan itu. Tidak ada yang melihatnya, apa salahnya tidur di atas ranjang itu? Setidaknya mencoba saja. Ia tergoda dan langsung saja naik ke atas ranjang.

Rupanya ada mekanisme di bawah ranjang itu, karena begitu ia menaikinya, ranjang itu langsung terangkat ke atas. Sekarang ia berada di tengah-tengah ruangan. la kaget, dan berusaba untuk turun kembali.

Tetapi, apa yang dilihatnya? Lantai di bawah pun sudah tergeser dan diganti oleh kolam. Yang membuat dia lebih gelisah lagi, di kolam itu, ia melihat beberapa ekor buaya, “sialan”!

Begitu melihat ke atas, ia tambah cemas lagi. Ada beberapa pedang yang tergantung persis di atas ranjangnya. Ia memperhatikan talinya—temyata tali sutera yang sangat tipis, “mampus”.

la sudah kehabisan akal, apa yang harus dilakukannya. Di atas ada pedang, di bawah ada buaya. Ia berteriak minta bantuan, tidak ada yang mendengar teriakannya, “Keparat si Raja itu, ia ingin membunuh saya”—pikiran demikian yang mulai muncul.

Sepanjang malam, ia tidak bisa tidur. Lelap sedikit, mungkin ada pedang yang jatuh dan melukai dia, bahkan bisa membunuh dia. Kalau jatuh ke bawah,  pasti menjadi makanan buaya. Ia gelisah, cemas, takut.

Sekitar jam 06.00 pagi, tiba-tiba ranjangnya turun ke bawah, kolam tertutup dengan lantai marmer lagi dan pedang-pedang di atamya juga menghilang, sepertinya ditarik ke atas kembali. Ia menarik napas panjang.

Pintu kamar itu terbuka dan ia melihat Sang Raja memasuki kamarnya, “Putra sahabatku, bagaimana—bisakah kau tidur nyenyak semalam?”

“Tidur? Baginda Raja, aku harus berterus-terang—tadi malam Baginda telah mempersiapkan segala sesuatu untuk membunuh diriku. Kebetulan saja bahwa aku masih hidup”—pemuda itu sudah tidak bisa menyembunyikan amarahnya.

“Putra sahabatku, kau tidak bisa tidur karena takut mati?”—tanya Sang Raja sambil tersenyum.

“Tentu saja, siapa yang bisa tidur dalam keadaan mencekamkan itu?”—amarah pemuda itu masih nampak jelas.

“Dan putra sahabatku, kau tidak menikmati ranjang yang empuk dan kemewahan ruangan ini karena takut mati?”—Sang raja masih bertanya.

“Bagaimana saya dapat menikmati semuanya itu? Begitu lelap sedikit, aku akan mati konyol”— sang pemuda menjawab.

“Itulah pelajaran yang ayahmu ingin kau pelajari, putra sahabatku. Apa yang dapat kuberikan telah kuberikan. Sekarang kau boleh pulang”—ujar sang raja.

“Pelajaran? Apa maksud Baginda?”—pemuda itu bingung….

“Kemarin aku sengaja mengundang kamu masuk, ke ruang pribadiku, Kau melihat kemewahan hidupku, dan dari lirikan matama, aku bisa tahu bahwa kau menyangsikan kebijakan ayahmu mengirim kamu ke sini—bukankah demikian, putra sahabatku? ”— Janaka bertanya kembali.

Bara amarah pemuda ita sudah mulai pudar, “Memang demikian, Baginda.”

“Aku tinggal di dalam istana yang mewah ini, tetapi selalu ingat kematian. Aku tahu persis bahwa kapan saja ajalku bisa tiba. Itu sebabnya aku selalu sadar. Aku tidak pernah tertidur lelap. Aku menikmati hidup mewah ini, tetapi aku tidak pernah lupa bahwa pada suatu ketika, semuanya ini akan berakhir. Badan ini pun akan berakhir. Semuanya ini ibarat impian. Keberadaannya hanya untuk sesaat.”

Pemuda itu menundukkan kepalanya. Kata-kata Sang Raja itu menusuk jiwanya, menghabisi keangkuhannya dan melahirkan sesuatu yang “baru”, yang “indah” dalam dirinya!

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1998). Tetap Waras di Jaman Edan, Visi Ronggowarsito Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec1elearning-banner