Archive for the Inspirasi Rohani Category

Manunggaling Kawula Gusti, Pandangan Dualitas dan Non-Dualitas

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , , on September 23, 2018 by triwidodo

Kisah Pemuda Pembaca Buku-Buku dan Shankaracharya

Seorang Master berkisah tentang seorang pemuda berusia 22 tahun yang pergi menemui Shankaracharya. Sang pemuda telah membaca banyak buku dan menjadi senang berdebat. Ketika Shankaracharya sedang memberi pelajaran kepada para muridnya, sang pemuda menginterupsi dan bertanya apakah semua manusia tidak boleh dianggap sama karena aliran darah yang sama yang mengalir dalam diri semua manusia.

Shankara tersenyum dan mengatakan bahwa darah yang mengalir pada anak muda itu panas dan cepat. Shankara berupaya mendorong agar anak muda itu tidak berjalan terlalu jauh dengan pemahamannya. Tidak mungkin bagi manusia untuk membedakan antara hal-hal yang abadi dan yang tidak abadi. Seseorang dapat mengadopsi gagasan non-dualitas atau advaita dalam pikiran dan sikapnya sendiri. Tetapi tidak mungkin menyamakan semuanya dalam praktek di dunia nyata.

Sang pemuda bersikeras bahwa pandangan demikian sepertinya tidak benar. Dia menyatakan bahwa baginya, hal yang tepat adalah memperlakukan semua makhluk hidup dengan cara yang sama.

Shankara merasa jika pemuda ini dibiarkan mempraktekkan hal ini, akan ada kemungkinan dia sampai beberapa kesimpulan yang tidak masuk akal. Shankara segera memutuskan untuk memberinya pelajaran dengan bertanya, apakah dia memiliki seorang ibu. Pemuda itu menjawab bahwa dia mempunyai seorang ibu sangat yang dihormatinya. Shankara bertanya lagi apakah sang pemuda sudah menikah. Pemuda itu menjawab bahwa dia sudah menikah dan istrinya juga datang bersamanya ke ashram. Shankara kemudiaan bertanya apakah dia punya ibu mertua. Pemuda itu menjawab bahwa ibu mertuanya masih sehat. Shankara bertanya lagi apakah dia punya saudara perempuan. Pemuda itu menjawab dengan tegas bahwa dia memiliki dua saudara perempuan.

Shankara bertanya apakah semua orang itu adalah wanita. Pemuda itu menjawab memang demikianlah adanya. Shankara kembali bertanya karena dia menganggap mereka semua setara dan memperlakukan semua orang tersebut dengan cara yang sama apakah dia akan memperlakukan istrinya sebagai ibunya dan saudara perempuannya sebagai ibunya.

Dalam dunia multipelitas (multiplicity, bukan hanya non-dualitas dan dualitas), seseorang harus mengakui perbedaan kualitatif dan kuantitatif. Setiap bohlam listrik bervariasi dalam daya dan watt. Oleh karena itu cahaya yang memancar dari bohlam lampu bukan hanya karena arus listrik. Arusnya sama di mana-mana tapi perbedaan muncul dari bohlam lampu dengan intensitas yang berbeda. Kekuatan Tuhan adalah seperti tenaga listrik dan tubuh kita adalah bohlamnya.

 

4 Maharesi yang Mewakili Cara Pandang Pikiran Manusia

Ada 4 orang Maharesi, yakni: Sanaka, Sananda, Sanatana, dan SanatKumara. Keempat “orang” yang disebut Maharesi itu adalah mewakili jenis pikiran manusia, empat cara pandang yang saling terkait, namun beda.

Sanaka mewakili cara pandang Dvaita atau Dualitas, bahwasanya ciptaan dan pencipta adalah berbeda. Sananda adalah cara pandang Visistadvaita, bahwasanya walaupun beda, ada hubungan antara Ciptaan dengan Hyang Maha Mencipta. Sanatana adalah cara pandang Advaita atau Non-Dualitas bahwasanya Ciptaan dan Hyang Maha Mencipta tiada perbedaan apa-apa. Sementara itu yang terakhir, Sanat-Kumara adalah cara pandang yang membenarkan ketiga-tiga cara pandang sebelumnya.

Ya, tiga-tiganya benar – Tergantung pada tingkat kesadaran manusia dan juga waktu, tempat, dan situasi, dimana cara pandang yang satu bisa lebih applicable, lebih relevan daripada cara pandang lainnya.

Misalnya, saat kita ingin menasehati anak, dibutuhkan cara pandang kedua. Orangtua dan anak adalah beda, sehingga ada yang menerima nasehat dan ada yang memberinya. Namun, ketika anak itu sudah dewasa, sudah mengambil seluruh tanggung jawab dan menjadi kepala keluaraga, maka cara pandang ketiga yang berlaku. Sementara itu, cara pandang pertama dibutuhkan ketika kita menghadapi seorang pekerja atau pembantu. Ini bukan diskriminasi, tetapi justru meletakkan peran masing-masing pada tempatna dan secara proporsional. Penjelasan Bhagavad Gita 10:6 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Dualitas (Dvaita), Non-Dualitas (Advaita) dan Visistadvaita

“Aku sama terhadap setiap makhluk, tiada yang Kubenci, tiada pula yang terkasih. Namun, kehadiran-Ku tampak nyata dalam diri mereka yang senantiasa berbhakti pada-Ku, sebab mereka berada dalam (kesadaran)-Ku.” Bhagavad Gita 9:29

Bayangkan rumah besar bak istana. Seluruhnya milik seorang kaya. Di mana-mana kita melihat ayat atau bukti kehadirannya. Namun, ia berada di salah satu ruangan — wujudnya berada dalam ruangan yang menjadi ruang pribadinya — entah itu ruang istirahat, ruang baca, atau ruang lain. Tidak berarti bila gerak-geriknya terbatas pada satu atau beberapa ruangan pilihannya saja. Tidak. Ia bisa berada di mana saja. Seluruh bangunan adalah milik dia. Kepemilikannya dapat dirasakan di mana saja, namun di ruang-ruang tertentu, kehadirannya menjadi sangat nyata.

Setiap analogi, perumpamaan yang kita gunakan, sesungguhnya hanyalah membuktikan kegagapan kita. Namun, mau tidak mau kita mesti menggunakannya untuk “sedikit” memfasilitasi pemahaman kita.

SEORANG PANEMBAH yang senantiasa berbakti pada-Nya adalah manunggal dengan-Nya. Dalam tradisi rohani di wllayah peradaban kita — kita tidak membedakan antara “Zat” Gusti dan Kawula. Zat yang mengabdi dan Hyang diabdi atau objek pengabdian – adalah satu dan sama.

Tentunya filsafat rohani ini tidak bisa dipahami oleh mereka yang berjiwa gersang, di mana kekerasan hati menjadi penghalang utama bagi kemanunggalan. Scbab itu, para penerima Wahyu, para resi mengajarkan paharn Visistadvaita – Dualitas Khusus – bagi mereka yang berjiwa keras dan gersang.

Visistadvaita adalah filsafat tengah di antara Dvaita atau dualitas dan Advaita atau non-dualitas murni.

ADVAITA ATAU NON—DUALITAS adalah filsafat hidup yang menjadi landasan pemikiran para resi di wilayah peradaban kita. Filsafat Non-Dualitas murni, di mana Kawula dan Gusti adalah manunggal, hanya dapat dipahami oleh rnereka yang bersentuhan dengan ajaran-ajaran para resi dari peradaban kita, mereka yang telah “melihat” kebenaran.

DVAITA ATAU DUALITAS adalah filsafat hidup yang melihat kawula sebagai kawula, dan Gusti sebagai Gusti. Tidak ada kemungkinan untuk menyatu atau manunggal. Bagairnanapun, kcdudukan pengabdi selalu di bawah Ia yang diabdi. Dalam pemahaman ini, ketunggalan Tuhan diakui. Tapi, kemanunggalan antara pengabdi dan yang diabdi tidak diakui. Pemahaman ini sering menciptakan perpecahan, distorsi, dan pada akhirnya pertikaian.

Mereka yang berada dalam Wilayah pemahaman ini akan selalu melihat Wilayah Advaita atau Non-Dualitas Murni sebagai Wilayah haram, dan mereka yang berada dalam wilayah tersebut sebagai penghuni atau calon-penghuni neraka, “Berani-beraninya mereka menyamakan diri dengan Tuhan!”

Padahal bagi mereka yang berada dalam wilayah Advaitajustru Kemanunggalan Jiwa dengan Jiwa Agung mernbuktikan bahwa Ia adalah Hyang Tunggal. Percikan-percikan yang disebut Jiwa adalah bagaikan sinar bagi matahari Jiwa Agung; atau ombak bagi Samudera Gusti Pangeran.

VISISTADVAITA…. Mereka yang berada dalam Wilayah Dvaita juga sering, hampir selalu memusuhi mereka yang berada dalam wilayah Visistadvaita. Visistadvaita tetap mempertahankan perpisahan antara Jiwa dan Jiwa Agung — keduanya beda secara kuantitatif. Walau, di antara mereka ada juga yang berpendapat bahwa perbedaan kuantitatif itu menjadi tidak penting-penting banget, karena Jiwa dan Jiwa Agung adalah sama secara kualitatif. Secara kuantitatif, secawan air laut jelas tidak sama dengan seluruh air di laut. Tetapi, secara kualitatif, air di dalam cawan itu adalah sama asinnya dengan air laut. Sama-sama air laut.

Mereka yang berada dalam wilayah Visistadvaita memuja…… TUHAN SEBAGAI AYAH, IBU, Saudara, Kawan, bahkan Kekasih. Mereka menciptakan hubungan yang erat — melebihi hubungan antara majikan yang diabdi dan jongos yang mengabdi. Ada pula di antara mereka, lulusan Wilayah Dvaita, yang merasa tidak perlu rnengubah hubungan dalam bentuk pengabdi dan Hyang diabdi — namun, mereka mengubah relasi antara keduanya, mempereratnya. Pengabdi bukanlah jongos yang selalu mengharapkan gaji. Ia mengabdi tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Dasarnva bukan lagi untuk meminta suatu imbalan, tetapi semata karena kasih.

Hubungan antara Advaita dan Visistadvaita sangat erat. Ada kalanya seorang panembah yang telah manunggal, telah berada dalam Wilayah Advaita — memilih untuk turun tangga sedikit, berada dalarn wilayah Visistadvaita dengan penuh kesadaran, supaya dapat merasakan manisnya cinta, manisnya kasih, manisnya rasa rindu. Mereka sengaja menciptakan perpisahan untuk memunculkan romance di dalam hidup mereka — Roman Ilahi. Inilah yang dimaksud oleh Krsna, bahwasanya kehadiran-Nya dapat dirasakan, bahkan dapat dilihat di dalam diri seorang panembah sejati, walau sesungguhnya Ia Maha Ada — berada di mana-mana. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Advertisements

Egoisme Spiritual: Demi Moksha Pribadi, Penderitaan Sesama Tak Peduli

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , , on September 22, 2018 by triwidodo

Kisah Shiva dan Parvati di Kuil Kota Kasi

Seorang Master berkisah tentang Parvati yang bertanya kepada Shiva, “Gusti! Saya mendengar ada kuil suci yang didedikasikan kepada Gusti dengan sebutan Vishvanatha. Disebutkan bahwa mereka yang mengunjungi Kasi, mandi suci di Sungai Gangga dan melakukan persembahan kepada Gusti, mereka akan tinggal di Kailasha selamanya. Benarkah demikian?”

Gusti Shiva, Mahadeva menjawab, “Tidak semua orang memperoleh karunia itu. Sekedar mengunjungi Kasi dan melakukan persembahan kepada-Ku tidak cukup. Akan kujelaskan, mari kita pergi ke Kasi. Aku akan membuat drama!”

Shiva dan Parvati muncul di Kuil, sebagai pasangan yang berusia 90-an dan 80-an tahun. Shiva meletakkan kepalanya di pangkuan Parvati dan mulai mengerang kesakitan. Parvati sebagai wanita tua menangis dan mohon kepada setiap peziarah, “Wahai Bhakta Vishvanatha, lihatlah keadaan suamiku. Dia sangat haus dan bisa meninggal kapan saja. Maukah kau mengambilkan air untuk minum dia?” Para peziaraah datang dari tangga sungai setelah melakukan mandi suci di Sungai Gangga. Pakaian mereka basah dan mereka membawa air dalam tempat minum kecil.

Mereka melihat wanita tua yang meratap. Sebagian berkata, “Tunggu, saya akan melayani suami nenek setelah mempersembahkan air suci ke Gusti Vishvanatha.” Beberapa orang merasa terganggu dan berkata, “Pasangan pengemis ini membuat ibadah kita terganggu.” Beberapa yang lain berkata, “seharusnya pengemis tidak diizinkan masuk kuil.”

Di tengah kerumunan di dekat pintu masuk, seorang pencopet berjalan bersama beberapa peziarah. Dia mendekati pasangan tua tersebut dan bertanya, “Nenek, apa yang nenek inginkan? Siapakah kalian? Mengapa kalian ada di sini?” Wanita tua itu menjawab, “Nak, kami datang ke sini untuk memperoleh darshan Gusti Vishvanatha. Suami saya tiba-tiba sakit dan pingsan karena kelelahan. Dia mungkin bertahan hidup jika ada orang yang menuangkan air ke mulutnya yang kering. Saya telah minta banyak orang untuk membantu saya, tapi tidak ada orang yang menyisakan airnya. Mereka merasa doa dan persembahan mereka lebih penting dari melayani orang yang hampir mati karena kehausan.” Bahkan ada yang mencemooh, “Apapun yang terjadi pada kalian adalah karena karma kalian sendiri.”

Pencopet itu tergerak hatinya. Dia mengambil air yang disimpan dalam labu, akan tetapi wanita itu menghentikannya dan berkata, “Nak, suamiku bisa mati kapan saja, dia tidak akan menerima air kecuali orang yang memberi air mengatakan kebenaran.” Pencopet itu tidak paham dan bertanya, “Nenek, katakan padaku apa yang harus saya lakukan?” dengan tersenyum sang pencopet berkata, “Nenek, saya belum banyak melakukan perbuatan baik. Pekerjaan saya sebagai pencopet. Satu-satunya perbuatan baik yang akan saya lakukan adalah memberi minum suami nenek. Ini adalah kebenaran.” Dan sang pencopet menuangkan air ke mulut lelaki tua tersebut.

Nenek dan kakek tua itu menghilang dan muncul Shiva, Mahadeva beserta Parvati dengan segala kemegahannya. Shiva berkata, “Nak, kamu telah teberkati. Tidak ada ibadah yang lebih suci daripada melayani sesama dan tidak ada moralitas yang lebih besar daripada berbicara jujur tentang kebenaran. Semua kesalahan tindakanmu telah ditebus dengan perbuatan baik ini.”

Semua Mengalami Kejadian Akibat dari Tindakan Karma Kita sendiri

Ya, benar. Semua orang akan menerima akibat baik atau buruk karena tindakan mereka sendiri di masa lalu. Demikianlah hukum karma. Akan tetapi apakah kita akan egois dengan berbuat acuh tak acuh pada penderitaan orang lain? Dimana dharma kita? Dharma kita adalah membantu mereka yang sedang mengalami penderitaan. Sumber: Video Youtube oleh Bapak Anand Krishna: Bhagavad Gita dalam Hidup Sehari-Hari 2, Hadapi Tantangan, Jangan Menyerah!

 

Tangan yang Melayani Lebih Suci dari Bibir yang Berdoa

Di pertengahan bulan Desember 2011 pada halaman FB Bapak Anand Krishna diunggah sebuah video bhajan dari Youtube, KABHI PYASE KO PANI PILAYA NAHIN. Ternyata makna dari bhajan tersebut sangat menyentuh hati……… Intinya tangan yang melayani lebih suci dari bibir yang berdoa……….

Ada beberapa bait yang terjemahan bebasnya sangat menyentuh hati………

Aku pergi ke tempat ibadah dan berdoa kepada Tuhan, sementara aku berdoa tiba-tiba aku berpikir, kepada ibu dan bapakku saja aku tidak pernah melakukan pelayanan tanpa pamrih, lalu apa gunanya berdoa kepada Tuhan?

Aku pergi ke sebuah pertemuan untuk belajar tentang Tuhan dan aku mendengarkan ajaran suci, sementara aku mendengar ajaran suci tiba-tiba aku berpikir, meskipun aku telah lahir sebagai manusia yang disebut mulia, aku tidak pernah melakukan perbuatan mulia yang memberikan kebaikan pada sesama. lalu apa gunanya disebut manusia?

Aku pergi untuk mandi pada sungai Gangga di Haridwar Kasi yang suci, sementara aku sedang mandi di sungai Gangga tiba-tiba aku berpikir, aku telah mencuci tubuhku tapi aku tidak mencuci jiwaku, lalu apa gunanya mandi di sungai suci Gangga?

Aku telah membaca semua kitab suci, sementara membaca kitab suci tiba-tiba aku berpikir, aku tidak pernah berbagi pengetahuan dengan siapa pun, lalu apa pantas aku disebut bijak?

Hands that Help are Better than Lips that Pray

“Hands that Help are Better than Lips that Pray”, “Tangan yang membantu, melayani, lebih baik dari bibir yang berdoa,” demikian teguran Ellen Johnson, seorang aktivis kemanusiaan, yang dilontarkannya kepada Presiden A.S. saat sebagian warga Amerika terkena bencana topan Katrina (tahun 2005). Pasalnya, saat itu Presiden Bush dan Gubernur Louisiana Kathleen Blanco mengajak warga yang terkena musibah untuk berdoa! Ellen gusar: “…. judging from the speed of some relief efforts, officials should be busy working instead of preaching.” Ia mengharapkan para pejabat pemerintah lebih fokus pada pelayanan dan bantuan bagi para korban, yang ternyata terlambat tibanya.

Tidak berarti kita menjadi anti-doa, atau anti-ibadah. Tidak sama sekali. Yang dimaksud adalah mempraktekan nilai-nilai keagamaan dengan membantu sesama, apalagi yang sedang menderita dan menjadi korban bencana. Sesungguhnya Ellen Johnson hanya mengutip Robert Green Ingersoll (1833-1899), seorang pemikir asal Amerika yang pertama kali mencucapkan kalimat tersebut, “Hands that Help are Better than Lips that Pray”.

Seorang Guru Spiritual kontemporer, Sri Sathya Sai Baba (lahir1926), merubah kata “better” menjadi “holier”- sepasang tangan yang membantu lebih mulia, lebih suci dari bibir yang sedang berdoa. Para Sufi memiliki ungkapan-ungkapan yang mirip. Berarti apa? Berarti, nilai pelayanan, nilai kerelawanan, nilai berkarya tanpa pamrih adalah sebuah nilai yang universal, dan menembus segala macam perbedaan di permukaan.

Sebuah dunia yang damai hanya akan terwujud jika kita semua bersama-sama menjunjung tinggi nilai spiritual yang satu ini. Di dalam nilai inilah tersimpan harapan bagi hari esok yang lebih cerah, harapan bagi seluruh umat manusia, dan bagi kemanusiaan!…… Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2011). Karma Yoga bagi Orang Moderen, Etos Kerja Transpersonal untuk Zaman Baru. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kejujuran Tidak Dapat Dijadikan Peraturan

“Kejujuran” adalah sebuah pedoman. Dan, kejujuran tidak dapat dijadikan peraturan. Kita dapat membuat peraturan untuk mengatur tindakan yang tidak jujur. Kita dapat melarang penipuan dan penyelewengan. Dengan cara itu kita boleh berharap supaya setiap orang berperilaku jujur, namun kenyataannya apa? Fakta di lapangan menunjukkan bahwa peraturan, undang-undang, dogma, dan doktrin tidak dapat “menjujurkan” jiwa manusia. Bagaikan benih, kejujuran harus ditanam dan dikembangkan dalam diri manusia. Ia tidak dapat dijadikan peraturan, kemudian dimasukkan secara paksa ke dalam diri manusia. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). Mawar Mistik, Ulasan Injil Maria Magdalena. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Kejujuran tidak bisa dibentuk dengan peraturan, kejujuran bagaikan benih yang harus ditanam dan dikembangkan dalam diri manusia, lewat pendidikan dan praktek sejak usia dini. Mengubah karakter lama, memperbaiki pola “pemikiran lama” tidak mudah. Peraturan baru yang diterapkan kepada orang yang berkarakter lama tidak akan mempan. Mereka yang berkarakter “tidak jujur”, “tidak amanah” hanya menggunakan peraturan sebagai peraturan formal dan prosedural dan mengabaikan keadilan sejati.

Jangan Melemah Hadapi Masalah, Gigih Berjuang Mencapai Tujuan

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on September 20, 2018 by triwidodo

Kisah Kegigihan Seorang Anak Muda

Dikisahkan oleh seorang Master tentang seorang anak muda yang menghadap seorang bijak mohon diberi sebuah mantra. Sang bijak hanya akan memberikan mantra apabila sang pemuda bersedia melayaninya selama 12 tahun dan melaksanakan semua perintahnya. Sang pemuda setuju dan melayani sang bijak selama 12 tahun dan melaksanakan semua perintahnya. Menjelang akhir tahun ke 12, sang bijak merasa kematiannya sudah dekat dan minta sang pemuda mencari daun palmyra untuk menuliskan mantranya.

Setelah memperoleh, sang pemuda membawa daun palmyra tersebut, akan tetapi sang bijak telah meninggal. Seorang anak memberitahu sang pemuda bahwa sebelum meninggal sang bijak telah menulis sesuatu di atas hamparan pasir. Seorang wanita menyalin tulisan tersebut pada daun palmyra dan menghapus tulisan tersebut.

Sang pemuda mencari wanita tersebut yang ternyata memiliki beberapa keledai. Sang wanita mengatakan bahwa dia akan memberikan daun palmyra tersebut hanya jika sang anak muda melayani dan patuh selama 12 tahun. Sang wanita mengatakan bahwa dia menyimpan daun palmyra pada anting-anting yang dipakainya. Untuk memperoleh mantra tersebut, sang anak muda menyetujui merawat keledai dan melayani wanita tersebut.

Pada suatu hari, sang anak muda tidak memperoleh makanan dari  wanita itu dan mendengar tentang raja yang selalu memberi makan orang miskin. Sang raja memperoleh nasihat bahwa dia akan memperoleh putra saleh dengan laku pelayanan memberi makan orang miskin. Bila sebuah lonceng di istana berbunyi, itu sebagai tanda seorang saleh telah mengambil makanan yang dibagikan sang raja dan sang raja akan dikaruniai anak saleh. Pelayanan tersebut mulai dilakukan saat sang permaisuri sedang hamil. Pemberian makanan sudah berjalan lama dan lonceng tidak berbunyi, sehingga sang raja memutuskan akan berhenti memberikan makanan kepada orang miskin.

Saat sang anak muda pergi ke tempat pembagian makanan, semua panci tempat masak telah dibawa ke sungai untuk dibersihkan. Sang anak muda ke sungai dan menemukan beberapa remah makanan di panci tempat masak dan mulai memakannya. Pada saat itulah lonceng di istana berbunyi.

Sang raja segera mengirim utusan mencari tahu siapa yang makan pembagian makanannya. Sang utusan membawa sang anak muda ke istana dan sang raja sangat bahagia, dia akan memperoleh seorang putra saleh. Dia menawarkan karunia separuh kerajaan dan mengundang sang anak muda untuk tinggal di istana. Sang anak muda menyampaikan kisahnya dan mengatakan tidak tertarik pada kerajaan atau yang lainnya, kecuali daun palmyra yang disimpan di anting-anting telinga sang wanita pemilik keledai.

Sang raja melacak sang wanita dan dibawa ke hadapannya. Ternyata wanita itu adalah seorang akrobat. Sang raja memintanya menujukkan keahliannya di atas tali di hadapan sang permaisuri yang sedang hamil. Saat sang wanita sedang menari di atas tali, sang raja bertanya apakah dia bisa menangkap dua buah anting-anting berlian dan memakainya. Sambil menari sang wanita menangkap kedua anting-anting berlian, melepaskan anting-anting yang berisi daun palmyra ke bawah dan mengenakan anting-anting berlian tersebut.

Ketika anting-anting berisi daun palmyra jatuh ke bawah, sang anak muda bergegas mengambilnya dan membaca mantra yang tertulis di daun palmyra tersebut. Sang anak muda langsung mengalami pencerahan seketika.

Meneladani Kegigihan Para Bijak

I Ching menganjurkan agar Anda meniru para bijak, yang dimaksudkan adalah “tirulah semangat mereka”. Meniru seorang Lao Tze atau seorang Buddha atau seorang Muhammad tidak berarti Anda menjadi photo-copy mereka. Tirulah kegigihan mereka dalam hal pengembangan diri. Jika itu yang Anda lakukan, Anda akan selalu jaya, selalu berhasil! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Menemukan Jati Diri I Ching Bagi Orang Moderen. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Mengapa Kita Melemah Saat Menghadapi Masalah?

Sri Bhagavan (Krsna Hyang Maha Berkah) bersabda: “Dalam keadaan genting dan ditengah krisis seperti ini, Arjuna, dari manakah munculnya kelemahan hatimu, yang sungguh tidak pantas bagi seorang kesatria, tidak mulia, tidak terpuji, dan sangat memalukan.” Bhagavad Gita 2:2

Inilah kondisi kebanyakan dari kita, dalam keadaan gelisah kita melemah. Semestinya kita memiliki energi untuk menghadapi persoalan, tapi kebanyakan kita melemah. Apa yang salah? Dari pendidikan kita sejak awal. Kita tidak diajarkan untuk bangkit kembali. Ketika kita jatuh. Kebanyakan di antara kita, begitu kita jatuh, ada yang membantu cepat-cepat. Masih kecil juga, begitu kita jatuh langsung dibantu, dibangkitkan. Semestinya dibiarkan. Ada anak yang menangis sedikit saja, orang tua sudah merasa gelisah. Segala keinginan dipenuhi. Ini adalah kesalahan.

Jadi anak ini tidak siap untuk menghadapi tantangan, dari kecil semuanya terpenuhi. Sekarang kita melihat anak-anak muda sudah memiliki motor, sudah memiliki handphone jadi sudah konsumtif. Dia belum tahu mencari uang sudah dibelikan handphone. Dia belum tahu mencari uang tapi sudah merokok. Itu menghamburkan, membakar uang. Dan kadang-kadang orangtua melihat dan tidak menegur. Kita memanjakan anak-anak kita. Dengan begitu nanti kalau dalam hidup menghadapi tantangan, menghadapi suatu permasalahan ia melemah. Beruntunglah Arjuna karena ada Krishna yang mengingatkan. Sumber: Video Youtube oleh Bapak Anand Krishna: Bhagavad Gita dalam Hidup Sehari-Hari, Hadapi Tantangan, Jangan Menyerah!

Kenyamanan Berlebihan Melumpuhkan Semangat Juang

Salah satu penyebab utama kematian potensi adalah kenyamanan yang berlebihan. Ini melumpuhkan semangat juang kita. Tak ada lagi gairah untuk menghadapi tantangan.

Seorang anak atau remaja yang sejak kecil dimanjakan; seorang pejabat yang terlalu lama berkuasa; orang kaya yang lebih percaya pada kekayaannya daripada kemampuan dirinya; Seorang miskin yang menjadi minder dan menerima kemiskinannya sebagai takdir atau nasib adalah “kenyaman” yang mematikan potensi kita. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Youth Challenges And Empowerment. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Tetap Gigih Berjuang Walau Usia Sudah Uzur

Para Resi menjelaskan samnyas sebagai pelepasan diri dari segala perbuatan yang termotivasi oleh keinginan untuk meraih imbalan, memperoleh sesuatu; dan, tyaga, sebagaimana dijelaskan oleh para bijak, adalah menyerahkan, melepaskan segala pahala, seluruh hasil dari setiap perbuatan.” Bhagavad Gita 18:2

Ini adalah terobosan baru…..

KRSNA TIDAK MENJELASKAN SAMNYAS sebagai penarikan diri dari keramaian dunia. Jika kita berperan sebagai Arjuna, di mana urusannya adalah membela kebajikan dan keadilan — maka tidak ada masa pensiun. Sebab itu, samnyas dijelaskan bukan sebagai penarikan diri dari keramaian dunia; segala urusan dunia; maupun dari segala perbuatan. Tapi, sebagai pelepasan atau penarikan diri dari segala perbuatan yang termotivasi oleh keinginan untuk meraih imbalan.

Di usia uzur pun, jika memang peran kita menuntutnya, maka kita mesti tetap berkarya, berjuang. Arjuna belum menyelesaikan perannya. Ia mesti berjuang. Pun demikian dengan mayoritas kita hingga saat ini.

Tidak semua orang mesti menjadi petapa dan tinggal di tengah hutan. Tidak semua orang mesti menyepi. Tidak semua orang mesti menarik diri dari keramaian. Arjuna termasuk mereka yang mesti menjalani samnyas dengan pemahaman baru ini. Dan sesungguhnya kita pun demikian. “Kemungkinan besar” demikian!

BERKARYALAH TANPA MEMIKIRKAN HASIL, tanpa motivasi yang berlandaskan pada keinginan untuk menjadi super kaya, super tenar, dan super apa saja! Berkaryalah dengan semangat melayani sesama. Dengan berkarya seperti itu, sesungguhnya kita pun sudah memasuki samnyas. Kita sudah tidak lagi memikirkan kepentingan diri. Kita sudah tidak berdagang sapi, tidak terlibat dalam transaksi, “lu jual, gue beli.”

Kendati demikian, setiap laku, setiap perbuatan, setiap karma tidak bisa dilepaskan dari konsekuensinya, tiada sebab tanpa akibat, tiada aksi tanpa reaksi. Karya baik menghasilkan kebaikan, dan karya buruk menghasilkan keburukan. Nah, “Hasil Baik” pun dapat menjadi kepala ular dalam perrnainan ular tangga dan mematuk kita. Kita bisa menjadi “besar kepala” karena kebesaran hasil dari pekerjaan-“ku”, dari jerih payah-“ku”.

SEBAB ITU, RENOUNCE THE FRUIT – Lepaskan buah karyamu. Semua itu karena Gusti, semua karena anugerah Gusti. Apa yang dapat kuperbuat tanpa kehendak dan restu Gusti? Kita berkarya demi kebaikan itu sendiri.

Ya sudah, janganlah merasa tersanjung ketika seorang memuji kita. Menerima pujian orang pun sudah cukup untuk membesarkan ego kita, ingat kepala ular. Serahkan seluruh hasil dari perbuatan kita kepada Gusti Hyang Maha Kuasa! Nah, renouncing the fruit inilah tyaga.

Berbuat baik, dan segala hasil dari perbuatan itu dipersembahkan kepada Gusti Pangeran. Ini adalah sikap mental, supaya kita tidak menjadi sombong. Ini adalah sikap hidup, attitude: “Engkaulah Hyang Menggerakkan tanganku untuk berbuat, maka hasil perbuatan pun kuserahkan kepada-Mu.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Dari Pergaulan Buruk ke Pergaulan Baik, Penjahat Terbejat pun Bisa Menjadi Bijak

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on September 19, 2018 by triwidodo

Kisah Ambashali dan Sang Buddha

Seorang Master berkisah tentang Buddha yang telah melepaskan cara hidup duniawi. Buddha melakukan perjalanan jauh dan orang-orang terpesona pada wajahnya yang tampan dan bersinar. Seorang wanita bernama Ambashali menghampirinya dan berkata, “Wahai orang yang hebat, Paduka terlihat seperti pangeran dalam jubah oker. Bolehkah saya tahu mengapa Paduka mengenakan jubah pada usia muda ini?”

Buddha menjawab bahwa dia mengambil jalan pelepasan keduniawian untuk mencari solusi atas 3 masalah. “Tubuh yang muda dan tampan ini pasti akan menjadi tua seiring waktu – akan sakit dan mati pada akhirnya. Saya ingin tahu penyebab usia lanjut, penyakit dan kematian.”

Wanita tersebut terkesan oleh jawaban Sang Buddha dan mengundang Buddha untuk makan siang di rumahnya. Berita undangan makan siang oleh wanita tersebut cepat menjadi viral di seluruh desa. Penduduk desa datang satu per satu menghadap Buddha agar tidak memenuhi undangan wanita tersebut, karena dia mempunyai karakter yang buruk. Buddha mendengarkan semua keluhan mereka dengan sabar. Buddha tersenyum dan bertanya kepada Kepala Desa, “Apakah Anda juga menegaskan bahwa wanita itu berkarakter buruk?” Kepala Desa menjawab, “Tidak sekali, tapi seribu kali saya menjamin karakter jahat Ambashali. Mohon jangan ke rumahnya.”

Memegang tangan kanan Kepala Desa, Buddha memintanya untuk bertepuk tangan. Kepala Desa mengatakan bahwa dia tidak dapat melakukan tepuk tangan dengan sebelah tangan. Buddha mengataakan, “Demikian pula Ambashali, dia tidak bisa menjadi buruk sendirian kecuali ada penduduk yang berkarakter buruk. Jika semua penduduk desa baik, wanita tidak akan menjadi buruk. Karena itu, laki-laki dan uang mereka bertanggungjawab atas karakter buruk dari Ambashali.

Buddha bertanya, “Adakah di antara orang-orang yang berkumpul tanpa jejak keburukan? Silakan maju?” Tidak ada seorang pun yang maju.  Buddha berkata, “Ketika begitu banyak laki-laki di desa yang buruk, tidak tepat menunjuk keburukan bagi wanita tersebut. Dia menjadi buruk karena teman bergaul yang buruk. Itulah sebabnya dikatakan, ‘katakan pada saya teman-teman pergaulanmu, saya akan memberitahukan siapa dirimu’.”

Para penduduk sadar atas kebodohan mereka dan bersujud kepada Buddha mohon ampun. Sejak saat itu mereka mulai memperlakukan Ambashali sebagai salah satu dari mereka. Terinspirasi oleh Ajaran Buddha, Ambashali melepaskan kehidupan keduniawian dan menjalani hidup saleh.

Tidak ada orang lain yang bertanggungjawab atas kebaikan dan keburukan seseorang. Masing-masing bertanggungjawab atas kebaikan dan keburukannya. Pertama hilangkan yang buruk dari dalam diri kita.

Ambashali Menggunakan Intuisi untuk Memperoleh Panduan dari Sang Penuntun

Biarlah kesadaran itu sendiri menuntun kamu. Tetapi, bagaimana dengan mereka yang tidak sadar? Adakah harapan bagi mereka? Rumi lebih realistis, serealistis Siddhartha, Krishna dan Muhammad. Dia tahu kelemahan kita yang masih belum sadar. Jika belum memiliki “onta kesadaran”, carilah orang yang sudah sering keluar-masuk istana. Yang tahu jalan. Jadikan dia penuntunmu.

Rumi juga tahu bahwa untuk mengenal Sang Penuntun pun dibutuhkan kesadaran. Sedikit, secuil, tetapi tetap membutuhkan kesadaran. Untuk itu, dia menasihati kita agar mengikuti intuisi. Bukan instink, bukan naluri, tetapi intuisi. Kesadaran seorang Penuntun, seorang Nabi, seorang Wali bisa memicu terjadinya peningkatan kesadaran dalam diri kita. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Ambashali Meninggalkan Kusang, Pergaulan Buruk dan Masuk Satsang, Pergaulan Baik, Sangha Buddha

Pergaulan baik membebaskan manusia dari segala keterikatan; bebas dari keterikatan, pandangannya makin jernih; kemudian ia pun mampu melihat Kebenaran sebagaimana adanya, demikian ia menikmati hidup tanpa ilusi dalam hidup ini.

Dengan Satsang, pergaulan baik atau “good company” kata Shankara, “bebaskan dirimu dari keterikatan.” Berarti pergaulan yang baik justru membebaskan jiwa manusia, tidak membelenggu dirinya. Tidak menambah keterikatannya. Dan, pergaulan yang tidak baik, bad company atau Kusang menambah keterikatannya, membelenggu jiwanya. Gunakan tolok ukur ini untuk mengevaluasi persahabatan Anda selama ini.

Dekati mereka yang berbudi luhur, itulah satu-satunya cara di Tiga Dunia

Yang dimaksud dengan tiga dunia bukanlah bumi, langit, dan alam di antara keduanya, tetapi tiga “masa” dan tiga “alam kesadaran”. Masa lalu, masa kini dan masa depan – begitulah dulu, begitulah sekarang, dan akan tetap begitu di kemudian hari. Hanya mereka yang berbudi luhur dapat membantumu. Untuk menjinakkan pikiranmu yang masih liar, menenangkan jiwamu yang masih gelisah, sekaligus mempertahankan kesadaran ruhanimu yang selama ini naik-turun melulu, dekatilah mereka yang berbudi luhur. Hanya mereka, hanyalah mereka yang dapat membantumu.

Good company, sajjanasanga atau “pergaulan dengan mereka yang berbudi luhur” ibarat naukaa, kapal yang dapat dijadikan wahana untuk mengarungi  lautan samsara, lautan kelahiran dan kematian yang maha luas.

Good company atau satsang tidak berarti sekadar “mendekati seorang naukaa”, sarana kapal, tetapi menggunakan jasanya, menerima pelayanannya dan “menaikinya”. Pergaulan Anda sudah “sat”, sudah benar atau belum, naukaa yang Anda naiki sudah betul atau belum, haruslah teruji oleh “rasa” anda sendiri. Pergaulan dengan mereka yang berjiwa besar, mereka yang berbudi luhur tak akan membebani jiwa Anda. Malah akan meringankannya, membebaskannya dari segala macam beban. Bila hubungan Anda dengan seseorang malah membebani jiwa Anda, ketahuilah bahwa orang itu belum layak menjadi naukaa. Atau bisa jadi ia memang seorang naukaa, hanya saja Anda belum menaikinya. Mungkin juga Anda sudah menaikinya, tapi lupa menurunkan buntelan di atas kepala.  Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Apalagi Ambashali, Orang yang Paling Khilaf pun Dapat Melampaui Kekhilafan

“Walau kau seorang yang paling berdosa, paling khilaf di antara semua yang berdosa dan khilaf; kau dapat melampaui (lautan) segala dosa-kekhilafan dengan menggunakan perahu Pengetahuan Sejati.”  Bhagavad Gita 4:36

Pencerahan berarti bebas dari segala dosa, segala kekhilafan, segala sesuatu yang membebani Jiwa. Berarti, tiada seorang pun yang dapat membantumu… Hanyalah engkau sendiri yang dapat membantu diri! Pencerahan pun adalah hasil upaya sendiri, yang kemudian mengundang berkah. Ya, peran anugerah, berkah, grace memang ada. Tidak bisa dinafikan. Tapi turunnya berkah karena upaya. Upaya adalah yang mengundang berkah.

Tidak ada penyelamat yang menyelamatkan diri kita. Seorang Sadguru atau Pemandu Rohani sejati pun tidak bisa melakukan perjalanan mewakili kita. Kita mesti berjalan sendiri. Krsna pun hanya menunjukkan jalan, menjelaskan tantangan dalam perjalanan. Tapi semua itu mesti kita hadapi sendiri.

Hidup Pasca Pencerahan adalah hidup dengan penuh kesadaran, sebab itu jelaslah bahwa setelah pencerahan, segala kekhilafan, segala dosa teratasi dengan sendirinya. Kekhilafan-kekhilafan terjadi karena kita hidup tanpa kesadaran. Mengendarai mobil dalam keadaan mabuk, apa yang diharapkan kecuali kecelakaan? Pencerahan menyadarkan kita – maka terhindarlah kita dari kecelakaan. Setidaknya, kemungkinan kecelakaan menjadi sangat minim. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Apalagi Ambashali, Penjahat Terbejat pun Bisa menjadi Orang Bijak

Sekalipun seorang penjahat terbejat memuja-Ku dengan penuh keyakinan dan kasih serta dengan segenap kesadarannya terpusatkan pada-Ku – maka ia mesti dianggap sebagai seorang bijak, seorang sadhu yang telah menemukan kedamaian di dalam dirinya, karena ia telah bersikap yang tepat.” Bhagavad Gita 9:30

Penjahat sebejat apa pun, jika berpaling pada-Nya, maka ia mesti dianggap seorang sadhu – seorang bijak berhati tenang, damai. Ia telah berhasil menenangkan pikirannya serta emosinya, yang sebelumnya selalu bergejolak.

…………….

BHAKTI MESTI BERLANDASKAN CINTA-KASIH tanpa batas dan tanpa syarat. Ditambah lagi dengan kata ananya – berarti, dengan segenap jiwa, raga, perasaan, pikiran, intelegensia, semuanya terpusatkan. Dengan kesadaran tunggal. Termasuk, ia tidak lagi memisahkan profesi, pekerjaan, kewajiban terhadap keluarga, masyarakat, lingkungan, dan lainnya – dari bhaktinya, dari pemujaannya. Hidup dia telah berubah menjadi aksi-bhakti. Ia menginterpretasikan bhakti lewat hidupnya. Ia menerjemahkan bhakti dalam bahasa tindakan nyata. Dan, ia melakukan semua ini karena ia melihat Wajah Gusti Pangeran di mana-mana. Baginya melayani sesama makhluk adalah ungkapan cintanya bagi Gusti Pangeran.

Baru setelah itu….. Jika seorang penjahat – sebejat apa pun – menginsafi dirinya, menyadari dirinya sebagai percikan Jiwa Agung, berpaling, dan mengubah hidupnya menjadi Berita-Baik; kemudian, melayani sesama makhluk, bukan saja sesama manusia; maka, ia dinyatakan sebagai seorang sadhu. Pikirannya sudah tenang; perasaannya tidak bergejolak; raga dan indranya terkendali; jiwanya damai; dan di atas segalanya perbuatannya mencerminkan ketenangan serta kedamaian dirinya. Ia menjadi wahana ketenangan dan kedamaian. Ia seorang sadhu. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Bisikan Setan atau Dorongan Naluri Hewani Dalam Diri?

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on September 18, 2018 by triwidodo

Krishna Tidak Pernah Menciptakan Setan

Dikisahkan oleh seorang Master bahwa selama Pandawa dalam masa pengasingan, Krishna mengunjungi mereka. Karena Pandawa telah mengalami ancaman dan penderitaan selama pengasingan, mereka akan terus bergantian jaga setiap jam, termasuk Draupadi pun juga memperoleh giliran. Adalah Krishna yang menawarkan diri untuk berjaga selama satu jam.

Yudhistira bertanya, “Kakanda adalah pelindung seluruh alam semesta, apa arti berdiri satu jam untuk melindungi kita?” namun Yudhistira juga memperingatkan Krishna, “Kakanda Krishna waspadalah terhadap para setan – saudara-saudaraku dan saya menjumpainya setiap malam. Dalam banyak kesempatan mereka mencoba menyerang kita. Kita tidak seharusnya menempatkan Kakanda dalam keadaan bahaya. Silakan Kanda beristirahat!”

Krishna menjawab, “Dharmaja, apakah demikian yang kalian pahami tentang keilahian-Ku? Di satu sisi kalian memuji-Ku sebagai pelindung seluruh alam semesta, dan di sisi yang lain kalian khawatir Aku tidak bisa melindungi Diri-Ku sendiri. Percayalah tidak ada Setan yang bisa menyentuh-Ku. Karena itu, izinkan Aku untuk bergabung dengan kalian dalam melakukan tugas keamanan.

Setelah menyelesaikan tugas satu jam, Krishna duduk di atas batu dan tersenyum sendiri. Arjuna menerima giliran selanjutnya. Arjuna bergegas ke Krishna dan khawatir Setan akan menyerangnya. Melihat Krishna tersenyum, Arjuna bersujud di kaki Krishna dan bertanya apakah Krishna telah mengalahkan Setan tersebut.

Krishna berkata, “Arjuna, Aku tidak pernah menciptakan Setan dan roh jahat. Lalu bagaimana Setan yang tidak ada muncul di hutan? Setan yang kalian bicarakan bukanlah setan sama sekali. Ini hanya cerminan dari sifat jahat dalam diri kalian seperti kebencian, amarah, dan kecemburuan. Kemarahan dalam diri kalian bermanifestasi sebagai Setan. Kekuatannya meningkat sebanding dengan kemarahan dalam diri kalian. Sifat jahat manusia adalah setan yang sesungguhnya yang mengganggu manusia. Manusia berada dalam anggapan keliru bahwa setan ada dan mereka bertanggungjawab atas penderitaan manusia. Ini semua hanyalah imaginasi dan ketakutan psikologis. Tidak ada setan dan roh jahat dalam ciptaan ini.”

Arjuna menyadari kebenaran kata-kata Krishna, dan setelah itu tidak menemui Setan. Arjuna yakin pada ucapan Krishna. Baik dan buruk adalaah ciptaan manusia itu sendiri.

 

Insting, Naluri Hewani Dalam Diri Manusia bukan Bisikan Setan

Bapak Anand Krishna pernah menyampaikan bahwa: Binatang harus mengikuti nalurinya. Ketika lapar, ia akan makan. la tidak bisa menahan diri. Ketika haus, la akan minum. Ketika harus melampiaskan napsu birahi, la akan melakukannya. Tidak perlu suasana, tidak perlu basa-basi. Lihat saja anjing-anjing di tengah jalan. Hanya manusia yang dapat melakukan sesuatu dengan “kesadaran”. la sudah tidak “perlu” mengikuti nalurinya. la bisa “mengurus” dirinya sendiri.

Mereka yang “merasa” digoda oleh Setan, lalu bertindak sesuai dengan apa yang mereka sebut “bisikan Setan”, sesungguhnya sedang mengikuti nalurinya. Dan manusia memang memiliki “naluri hewan” the basic instincts. Ketika masih bayi, ia masih dipandu oleh nalurinya. Untung otot-ototnya masih belum kuat, tulang-tulangnya masih rapuh dan ia tidak bisa berbuat banyak. Begitu lahir, jika ia bisa langsung jalan sendiri seperti anak anjing dan anak monyet, ia pun akan bertindak seperti binatang. Kalau lapar, la akan merebut makanan dari siapa pun juga. Kalau butuh seks, ia akan melakukannya kapan saja.

Tindakan “semau gue” berasal dari naluri hewani. Setelah berhasil memahami sebagian rahasia DNA manusia dan berhasil memetakannya, para saintis pun bingung. Ternyata DNA manusia, blue print dasar manusia itu, menyimpan rahasia alam semesta. Setiap orang memiliki “memori” yang bisa ditarik ke belakang sampai asal-usulnya alam semesta. Sungguh misterius! Jadi setiap manusia juga memiliki naluri hewani. Dituntun olehnya, tindakan anda akan menjadi hewani. Dipengaruhi olehnya, pikiran anda akan menjadi hewani. Dikuasai olehnya, ucapan-ucapan anda akan menjadi hewani.

 

DNA: Otobiografi Manusia Sejak Pertama Kehidupan dan Evolusi yang Dialaminya Di Jagad Raya

Dalam buku Genom, Kisah Species Manusia oleh Matt Ridley terbitan Gramedia 2005, disebutkan bahwa Genom Manusia – seperangkat lengkap gen manusia – hadir dalam paket berisi dua puluh tiga pasangan kromosom yang terpisah-pisah. Penulis Buku tersebut membayangkan genom manusia sebagai semacam otobiografi yang tertulis dengan sendirinya – berupa sebuah catatan, dalam bahasa genetis, tentang semua nasib yang pernah dialaminya dan temuan-temuan yang telah diraihnya, yang kemudian menjadi simpul-simpul sejarah species  kita serta nenek moyang kita sejak pertama kehidupan di jagad raya. Genom telah menjadi semacam otobiografi untuk species kita yang merekam kejadian-kejadian penting sesuai dengan keadaan sebenarnya. Kalau genom dibayangkan sebagai buku, maka buku ini berisi 23 Bab, tiap Bab berisi beberapa ribu Gen. Buku ini berisi 1 Milyar kata, atau kira-kira 5.000 buku dengan tebal 400-an halaman.

Memanfaatkan Law Of Synchronization

Sumber  video youtube: Law Of Synchronization by Anand Krishna

Sadar atau tidak sadar otak kita mencatat, meregister segala sesuatu. Jarang yang menggunakan kapasitas otaknya sampai 10% kebanyakan hanya 6-7%. Sisa kapasitas otak tersebut digunakan sebagai gudang memori. Semua kejadian yang kita alami selama 5.000 tahun atau misalnya kita sudah berkali-kali lahir dalam berbagai wujud sebanyak 40-50 atau 60 kali, semua kejadian tersebut disimpan dalam otak. Oleh karena itu kita mempunyai memori pengalaman hidup yang banyak sekali dalam berbagai wujud dan dalam berbagai keadaan.

Salah satu memori dari ruang simpanan tersebut kadang naik ke permukaan karena dipicu oleh hal tertentu. Para Yogi menggunakan hal itu sebagai alat sinkronisasi dengan level kesadaran yang lebih tinggi. Misalnya kita tertarik dengan kera, maka memori tentang kera dalam simpanan kita sedang naik ke permukaan. Para Yogi memberikan kita kisah-kisah tentang Hanuman, Kera Ilahi. Tubuh, mental emosional yang kita simpan boleh saja berupa kera akan tetapi kita bisa mensinkronkan Jiwa Kera dalam diri dengan Kera Ilahi, Hanuman.

Itulah sebabnya dalam kitab-kitab seperti “Pancatantra” berbagai “Katha” yang berkisah tentang binatang dapat meningkatkan kesadaran Jiwa anak-anak kecil.

Misal kita tertarik dengan gajah, berarti memori gajah dalam diri sedang naik ke permukaan. Kisah tentang Gajah Ilahi, Ganesha dapat meningkatkan kesadaran Jiwa kita.

Buddha menggunakan kisah-kisah “Jataka” untuk meningkatkan kesadaran Jiwa para pembacanya. Sumber  video youtube: Law Of Synchronization by Anand Krishna

 

Yang Baik Kita Kaitkan dengan Tuhan, Yang Buruk Kita Kaitkan dengan Setan

Bapak Anand Krishna menyampaikan: Baik dan buruk, dua-duanya berada dalam pikiran kita. Lalu, kita pula yang menghubungkan kebaikan dengan apa yang kita sebut “Tuhan” dan kejahatan dengan apa yang kita sebut “Setan”. Hidup dalam istana, dilayani oleh para gadis belia sungguh sangat nikmat. Lalu kita menghubungkan kebaikan dengan kenikmatan dengan “kebaikan”, dengan Tuhan. Hidup dalam hutan sungguh sangat berat, penuh dengan penderitaan. Lalu kita menghubungkan penderitaan dengan “kejelekan”, dengan setan.

Apa yang kita “suka”, kita kaitkan dengan Tuhan. Apa yang kita “Tidak suka” kita kaitkan dengan Setan. Apa yang kita “anggap” baik, kita hubungkan dengan Tuhan. Apa yang kita “anggap” tidak baik, kita hubungkan dengan setan.

Betapapun rajinnya kita mendatangi tempat-tempat ibadah, betapapun seriusnya kita mengkaji ajaran-ajaran agama, kita akan masih tetap jauh dari “kebenaran”, karena “kebenaran” tidak tergantung pada apa yang kita sukai dan apa yang tidak kita sukai. Kebenaran adalah kebenaran. Kesukaan dan ketidaksukaan kita tidak akan mengubahnya. Bahkan sesungguhnya, apa yang kita sukai dan apa yang kita tidak sukai dua-duanya adalah sisi-sisi kebenaran.

 

Bisikan Setan

Bisikan Setan terjadi saat memori sebagai hewani dalam diri sedang naik ke permukaan. Dengan  latihan meditasi dan yoga pikiran kita menjadi jernih dan dapat menyelekasi mana tindakan Preya yang menikmatkan dan menyamankan indera saja atau tindakan Shreya, yang memuliakan manusia.

Kisah-kisah hewan Ilahi, Hanuman, Ganesha, Garuda dapat meningkatkan kesadaran kita dan tidak terperangkap masuk lagi kepada Bisikan Setan, Naluri Hewani yang masih ada di dalam diri.

Berkarya Tulus Tanpa Pamrih, Sekedar Sanjungan pun Tidak Diharapkan

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , , on September 17, 2018 by triwidodo

Inner Beauty dari Putri Zebunnissa, Putri Kaisar yang Bijaksana

Dikisahkan oleh seorang Master tentang Zebunnissa adalah putri Kaisar Moghul Aurangazeb. Dia tidak hanya cantik dan menawan tetapi juga seorang sarjana dan penyair. Dia adalah seorang pencinta budaya India yang bersemangat.

Suatu kali, Kaisar Aurangazeb memberinya cermin yang indah sebagai hadiah ulang tahun. Zebunnissa sangat mencintai cermin tersebut. Suatu hari, seorang pelayan memegangi cermin ketika Zebunnissa sedang menyisir rambutnya setelah mandi. Cermin tersebut terlepas dari tangan pelayan dan pecah menjadi beberapa bagian. Pelayan itu sangat ketakutan. Dia tahu bahwa cermin tersebut adalah hadiah berharga, diberikan Kaisar kepada sang putri dan betapa sang putri sangat mencintai cermin tersebut.

Pelayan itu siap menerima hukuman terberat yang mungkin diberikan kepadanya. Kaisar Aurangzeb ditakuti karena kebengisannya. Sang Raja memenjarakan Ayahandanya sendiri, Shah Jahan dan saudara-saudaranya Dara Syikoh, Shuja dan Murad ke penjara agar bisa menaiki tahta.

Sang pelayan bersujud di kaki Putri Zebunnissa menunggu hukuman. Tapi, sang putri dengan tenang berkata dengan tersenyum, “Bangunlah! Aku senang alat yang membuat aku tersanjung rusak. Mengapa khawatir akan cermin yang rusak? Bahkan tubuh ini suatu kali akan rusak dan hancur pula.”

Sang pelayan menangis haru, Putri Zebunnissa bukan hanya cantik wajah dan tubuhnya akan tetapi hatinya pun sangat cantik. Inner Beauty…………….

 

Kecantikan Wajah dan Tubuh adalah Hasil Karma Kehidupan Masa Lalu

Sang pelayan ingat nasehat ibunya, entah nasehat itu benar atau tidak hanya seorang Master yang mengetahui:

  1. Jika kita selalu memikirkan hal-hal yang menyenangkan dan tetap bahagia, sepanjang waktu dalam kelahiran ini, kita mendapatkan wajah yang cantik di kelahiran berikutnya.
  2. Jika kita menderita dan menghadapi penghinaan karena wajah jelek kita, kita akan diberkati dengan wajah yang cantik di kehidupan yang akan datang.
  3. Jika kita mengikuti cara hidup bhakti dalam kelahiran ini, kita akan mendapatkan wajah yang indah di kehidupan yang akan datang.
  4. Jika kita membantu membangkitkan keyakinan pada mereka yang berwajah buruk atau menderita dalam hidup, kita akan mendapatkan wajah yang cantik di kelahiran Anda berikutnya.
  5. Jika Kita merindukan wajah yang cantik dan tidak menghina orang-orang dengan wajah jelek, kita akan diberkati dengan wajah cantik pada kelahiran berikutnya.
  6. Jika menertawai mereka yang cacat fisik dan mental, kita akan memperoleh wajah yang jelek.

Putri Raja Zebunnissa bukan hanya cantik dan menawan wajahnya akan tetapi demikian juga hatinya.

Bisakah Kita seperti Putri Zebunnissa yang Bebas dari Keangkuhan?

“Mereka yang bebas dari keangkuhan, ilusi, dan telah menaklukkan kejahatan keterikatan; senantiasa berpusat pada Kesadaran Jiwa Agung; keinginan-keinginannya telah berakhir; dan sudah tidak terpengaruh oleh dualitas suka dan duka, sesungguhnya telah bebas pula dari segala keraguan dan telah mencapai Tujuan Tertinggi nan Abadi (Kemanunggalan diri dengan Sang Jiwa Agung).” Bhagavad Gita 15:5

……………..

Menarik sekali, kejahatan — setan, iblis, si jahat, atau apa pun sebutannya — bagi Krsna, adalah “keterikatan” manusia.

SUNGGUH SULIT MEMAHAMI HAL INI jika kita dibesarkan dengan pengkondisian, atau indoktrinisasi paham bila si jahat ada di luar diri. Bagi Krsna, si jahat tidaklah berada di luar atau di dalam diri, tetapi ia adalah “keadaan”. “Keterikatan” itulah keadaan jahat. Keterikatan itulah yang mengantar kita, memasukkan kita ke dalam alamnya, yaitu alam neraka penuh penderitaan.

Banyak juga yang beranggapan bahwa kita tidak bisa hidup tanpa keterikatan, “Mana mungkin hidup tanpa keterikatan keluarga, pekerjaan segala? Bagaimana dengan kewajiban-kewajiban manusia? Mereka yang berpaham demikian, umumnya menjadikan keterikatan sebagai landasan mereka berkeluarga, bekerja, dan bahkan untuk bertahan hidup.

SALAH PAHAM INI MEMUNCULKAN EG0, aku, ke-“aku”-an, keangkuhan, dan ilusi. Hasilnya adalah suka dan duka, panas dan dingin, dan pengalaman-pengalaman lain yang saling bertentangan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Bisakah Kita seperti Putri Zebunnissa yang Tidak Membutuhkan Sanjungan?

“Ia tidak terikat dengan sesuatu, di mana pun ia berada, dan dalam keadaan apa pun. Ia tidak terjebak dalam dualitas menyenangkan dan tidak menyenangkan. Ia tidak tersanjung (ketika dipuji), pun tidak gusar (ketika dicaci); Kesadaran Jiwanya sungguh tak tergoyahkan lagi.” Bhagavad Gita 2:57

Kṛṣṇa tidak menganjurkan agar kita menolak kebahagiaan, pengalaman-pengalaman yang menyenangkan dan sebagainya, ia hanya menganjurkan agar kita jangan sampai lupa daratan. Setiap Pengalaman Dalam hidup ini hanya bersifat sementara. Dalam keadaan duka, jangan sampai kecewa, dan menciptakan trauma bagi diri sendiri. Terimalah apa adanya. Demikianlah kehidupan ini, jangan terikat pada pengalaman apa pun. Semuanya hanya ada untuk sesaat.

 

“Ia yang dapat menarik dirinya, indranya, dari objek-objek di luar diri, sebagaimana seekor penyu menarik anggota badannya ke dalam cangkangnya, sesungguhnya sudah tak tergoyahkan lagi kesadarannya.” Bhagavad Gita 2:58

“(Demikian, dengan menarik diri dari objek-objek di luar), seorang dapat memisahkan dirinya dari pemicu-pemicu di luar diri yang senantiasa menggoda. Kendati demikian, ‘rasa’ dari apa yang pernah dialami sebelumnya, bisa jadi masih tersisa (dan, sewaktu-waktu bisa menimbulkan keinginan untuk mengulangi pengalaman sebelumnya). Namun, ketika ia berhadapan dengan Hyang Agung, meraih kesadaran diri, menyadari Hakikat-Dirinya sebagai Jiwa, Maka rasa yang tersisa itu pun sirna seketika.” Bhagavad Gita 2:59

Kesadaran Diri, bagi Kṛṣṇa, tidak kurang, tidak lebih adalah menyadari diri sebagai Jiwa Abadi. Inilah pencerahan. Seorang yang tercerahkan sadar bahwa “Diri”-nya hanyalah percikan dari Hyang Ilahi. Ia merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Jiwa Agung. Hanya kesadaran seperti ini yang dapat membuat kita puas batin, seimbang, bahagia.

 

Melepaskan Segala Perbuatan yang Termotivasi Imbalan, termasuk Sekadar Sanjungan dan Pujian

“Para Resi menjelaskan samnyas sebagai pelepasan diri dari segala perbuatan yang termotivasi oleh keinginan untuk meraih imbalan, memperoleh sesuatu; dan, tyaga, sebagaimana dijelaskan oleh para bijak, adalah menyerahkan, melepaskan segala pahala, seluruh hasil dari setiap perbuatan.” Bhagavad Gita 18:2

Ini adalah terobosan baru….. KRSNA TIDAK MENJELASKAN SAMNYAS sebagai penarikan diri dari keramaian dunia. Jika kita berperan sebagai Arjuna, di mana urusannya adalah membela kebajikan dan keadilan — maka tidak ada masa pensiun. Sebab itu, samnyas dijelaskan bukan sebagai penarikan diri dari keramaian dunia; segala urusan dunia; maupun dari segala perbuatan. Tapi, sebagai pelepasan atau penarikan diri dari segala perbuatan yang termotivasi oleh keinginan untuk meraih imbalan.

Di usia uzur pun, jika memang peran kita menuntutnya, maka kita mesti tetap berkarya, berjuang. Arjuna belum menyelesaikan perannya. Ia mesti berjuang. Pun demikian dengan mayoritas kita hingga saat ini. Tidak semua orang mesti menjadi petapa dan tinggal di tengah hutan. Tidak semua orang mesti menyepi. Tidak semua orang mesti menarik diri dari keramaian. Arjuna termasuk mereka yang mesti menjalani samnyas dengan pemahaman baru ini. Dan sesungguhnya kita pun demikian. “Kemungkinan besar” demikian!

BERKARYALAH TANPA MEMIKIRKAN HASIL, tanpa motivasi yang berlandaskan pada keinginan untuk menjadi super kaya, super tenar, dan super apa saja! Berkaryalah dengan semangat melayani sesama. Dengan berkarya seperti itu, sesungguhnya kita pun sudah memasuki samnyas. Kita sudah tidak lagi memikirkan kepentingan diri. Kita sudah tidak berdagang sapi, tidak terlibat dalam transaksi, “lu jual, gue beli.”

Kendati demikian, setiap laku, setiap perbuatan, setiap karma tidak bisa dilepaskan dari konsekuensinya, tiada sebab tanpa akibat, tiada aksi tanpa reaksi. Karya baik menghasilkan kebaikan, dan karya buruk menghasilkan keburukan. Nah, “Hasil Baik” pun dapat menjadi kepala ular dalam perrnainan ular tangga dan mematuk kita. Kita bisa menjadi “besar kepala” karena kebesaran hasil dari pekerjaan-“ku”, dari jerih payah-“ku”.

SEBAB ITU, RENOUNCE THE FRUIT – Lepaskan buah karyamu. Semua itu karena Gusti, semua karena anugerah Gusti. Apa yang dapat kuperbuat tanpa kehendak dan restu Gusti? Kita berkarya demi kebaikan itu sendiri. Ya sudah, janganlah merasa tersanjung ketika seorang memuji kita. Menerima pujian orang pun sudah cukup untuk membesarkan ego kita, ingat kepala ular. Serahkan seluruh hasil dari perbuatan kita kepada Gusti Hyang Maha Kuasa!

Nah, renouncing the fruit inilah tyaga. Berbuat baik, dan segala hasil dari perbuatan itu dipersembahkan kepada Gusti Pangeran. Ini adalah sikap mental, supaya kita tidak menjadi sombong. Ini adalah sikap hidup, attitude: “Engkaulah Hyang Menggerakkan tanganku untuk berbuat, maka hasil perbuatan pun kuserahkan kepada-Mu.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Mantra: Mengakses Frekuensi Lebih Tinggi, Membangkitkan Kemuliaan Diri

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on September 16, 2018 by triwidodo

Tuhan seperti Penari dan Alam Semesta termasuk Kita adalah Tarian-Nya

Tarian apa pun tidak dapat dipisahkan dari sang penari. Tarian ada karena ada penari. Tidak ada tarian tanpa sang penari, karena hal itu sangatlah mustahil. Tarian berhubungan  dengan sang penari seperti sinar mentari dan sang matahari. Tak akan ada sinar mentari tanpa sang matahari. Tak ada cahaya rembulan tanpa sang bulan. Poin ini sangatlah penting. Sungguh, jauh lebih penting daripada sepintas kedengarannya.

Tuhan bukanlah “pabrik” yang terpisah dari barang-barang “buatan pabrik”. Seorang pembangun gedung itu terpisah dari gedung hasil buatannya. Produksi barang dan produsennya merupakan elemen yang terpisah.  Penari tidak pernah dapat dipisahkan dari tariannya. Barang manufaktur dan produk memiliki identitas terpisah dari pabriknya. Perpisahan “terjadi” saat proses manufaktur atau produksi telah selesai. Namun, seorang penari tidak pernah dapat dipisahkan dari tariannya. Tuhan sering disebut sebagai Nataraja – Raja para Penari, Sang Penari Teragung, Sang Penari. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2009). “The Gospel Of Michael Jackson”. Anand Krishna Global Co-operation)

Kalau Tuhan adalah Sang Penari, maka elemen-elemen alami, dewa-dewa pun adalah Tarian-Nya. Hyang Ada Hanya Dia. Selain Dia hanya bersifat Sementara.

Dewa, Elemen Alami yang Mengatur Tata Kelola Alam

Dalam tradisi Peradaban Hindu (Peradaban Sunda Sindhu Sarasvati yang membentang dari Sungai Indus sampai batas Astraleya), sebuah patung (lebih tepat disebut Pratima) adalah ungkapan dari salah satu nilai yang sakral di dalam diri kita. Pratima adalah likeness, image.

Misalkan Raden Wijaya, pendiri Majapahit dipatungkan sebagai Harihara (separuh badan adalah Vishnu, Hari dan separuh lainnya adalah Shiva, Hara). Vishnu mewakili nili luhur untuk melindungi masyarakat tanpa pilih kasih tanpa membedakan. Shiva mewakili nilai luhur untuk mendaur ulang (memperbarui, mengubah, update) kejelekan, keburukan menjadi kebaikan. Dari waktu ke waktu, segala sesuatu yang sudah usang harus diubah. Para dewa adalah elemen-elemen yang ada di Alam dan mengatur tata kelola Alam Semesta. Divine Government. Brahman adalah di atas segala-galanya bukan Brahma (Pencipta). Brahman adalah Acintya, sesuatu yang tidak terpikirkan tidak terbayangkan. Sumber Video Youtube Bapak Anand Krishna: Patung atau Pratima

Kisah Piring Emas di Kuil Suci Vishvanath

Dikisahkan oleh seorang Master tentang Kuil Suci Vishvanath di Kashi tempat suci yang didedikasikan kepada Shiva yang di kenal juga dengan nama Vishvanatha.

Pada suatu hari saat pendeta dan para pemuja Shiva sedang tenggelam dalam nyanyian suci, mereka mendengar suara logam jatuh. Mereka melihat piring emas bersinar di lantai kuil. Sang pendeta mendekat untuk memeriksanya dan menemukan tulisan dalam piring tersebut, “Ini milik seorang bhakta terkasih.”

Sang pendeta memegang lempengan tersebut yang segera mengubah piring emas menjadi tanah liat. Semua orang mencoba kesalehan masing-masing dengan memegang piring tersebut akan tetapi selalu saja piring tersebut berubah menjadi tanah liat. Dan saat dikebalikan kembali menjadi piring emas kembali. Berita tersebut viral di tengah masyarakat dan semua sarjana, penyanyi, penyair dan pengkhotbah datang memegang piring tersebut tapi tidak ada satu pun yang berhasil. Lebih satu bulan, piring tersebut tetap di lantai kuil menunggu bhakta terkasih Vishvanatha mengambilnya.

Pada suatu hari seorang asing datang ke kuil untuk berdoa kepada Tuhan, karena melihat pengemis buta, bodoh dan lumpuh dan ingin membantunya. Dia melihat orang-orang berkerumun dan sangat sedih melihat orang-orang yang seharusnya berdoa  malah bergunjing tentang siapa bhakta Vishvanatha di kota tersebut. Orang asing tersebut diminta orang-orang memegang piring tersebut tapi dia menolak karena dia hanya ingin berdoa. Setengah dipaksa akhirnya orang asing tersebut memegang piring emas tersebut tanpa keinginan apa pun. Ternyata piring tersebut tidak menjadi tanah dan bahkan bersinar dengan kilauan 2 kali lipat. Semua orang bertanya orang asing itu bekerja sebagai apa, sadhana dan seva apa yang telah dilakukannya. Orang asing itu menjawab bahwa dia pekerja biasa dan satu-satunya sadhana yang dia lakukan adalah membaca mantra, mengulang Nama Ilahi. Satu-satunya seva yang dilakukan adalah berbuat baik kepada orang miskin. Kualifikasi untuk menjadi kekasih Tuhan dapat diperoleh melalui Namasmarana (mengulang nama Ilahi) dengan penuh iman kepada Tuhan.

 

Mengakses Frekuensi Lebih Tinggi untuk Menyadari bahwa Diri adalah Percikan Ilahi

Bahasa Sanskerta itu bukan bahasa lisan tetapi bahasa program. Bahasa yang dibuat untuk berhubungan dengan dewa. Dalam hal ini dewa bukan makhluk abadi akan tetapi frekuensi yang lebih tinggi. Semuanya frekuensi lebih tinggi disebut dewa. Dan masing-masing frekuensi ada namanya. Kadang kita menyebut sebagai makhluk surgawi, tetapi ini adalah nama-nama dari frekuensi yang lebih tinggi.

Ketika mengucapkan kata dengan bahasa Sanskerta, setiap huruf dalam bahasa Sanskerta terhubung dengan frekuensi yang lebih tinggi. Ke otak, kata tersebut terhubung dengan beberapa bagian dari otak kita. Setiap huruf tertentu merangsang bagian tertentu dari otak kita. Setiap kata yang diucapkan dalam mulut kita dengan totalitas, otak kita dirangsang dan saat otak dirangsang maka seluruh tubuh juga dirangsang. Untuk membaca mantra tidak perlu belajar Sanskerta, cukup membaca mantra dasar misalnya gayatri mantra. Sumber: terjemahan bebas dari Conversation Anand Krishna and Kali Ma in Meditation, Spreaker

Mantra Alat Untuk Melampaui Mind

Berikut pertanyaan seorang sahabat dengan Bapak Anand Krishna tentang bagaimana melampaui mind. Selama memakai mind kita masih berada pada lapisan kesadaran mental/emosional, belum mencapai kesadaran inteligensia apalagi kesadaran Jiwa:

Sahabat: Sulit sekali Pak, melampaui pikiran ini, Soalnya segudang memori dari masa lalu, ada saja yang muncul lagi, muncul lagi. Bagaimana deal with those memories, Pak? Karena satu memori mengantar pada memori lain, lalu memori yang lain lagi, lain lagi….. begitu terus. Puyeng Pak.

Anand Krishna: Setiap pikiran, perasaan, termasuk memori masa lalu yang muncul ke permukaan, membutuhkan energi pendorong. Sebetulnya tidak perlu merasa terganggu. Biarkan saja, saksikan tanpa melibatkan diri. Berarti, tidak memberikan label apa pun kepada pikiran, perasaan, atau memori yang muncul. Muncul, ya muncul. Sebentar lagi juga berlalu. Namun, kalau merasa sangat terganggu—hanya kalau merasa sangat terganggu—, coba ciptakan cabang bagi energi pendorongnya. Gunakan energi cabang yang baru diciptakan itu.

Bagaimana menciptakan cabang? Salah satu cara yang paling mudah adalah melihat gambar, Iukisan, patung, atau apa saja yang terkait dengan spiritual. That is, jika Anda berada di rumah, dan tidak punya beban mental/emosional yang tercipta oleh pemahaman keliru tentang “benda-benda” tersebut. That is, jika Anda menganggapnya sebagai tools, alat untuk laku spiritual. Jadi, Anda tidak terjebak dalam hal berhala-memberhalakan. Alat-alat seperti itu disebut yantra. Tidak hanya berbentuk patung atau Iukisan, dalam tradisi spiritual yang bersumber pada mistisisme timur kuno, yantra lebih banyak berbentuk sacred geometry, bahkan aksara, kaligrafi, dan sebagainya.

Cara kedua: Mudra, gerakan-gerakan tangan dan jari yang juga bermanfaat bagi kesehatan badan, pikiran, dan perasaan. Ini adalah ilmu tersendiri. Dalam kesempatan lain akan kita bahas secara lebih detail sebab banyak buku yang membahasnya dari satu sisi saja, yaitu sisi yang terkait dengan yoga asana, yoga sebagai gerakan badan. Unsur spiritualnya tidak banyak dibahas.

Cara ketiga: Mantra atau manasa yantra, alat untuk mengendalikan gugusan pikiran serta perasaan. Mantra juga membebaskan kita dari keterikatan, termasuk dari memori-memori masa Ialu. Berdasarkan pengalaman saya, lebih banyak orang terbantukan oleh mantra. Maka, hampir semua kepercayaan menganjurkannya—walau dengan sebutan, cara, dan tentu ucapan yang berbeda. Sebab, energi yang dibutuhkan untuk mengucapkan mantra jauh lebih banyak daripada apa yang dibutuhkan untuk melihat yantra dan melakoni mudra. Meski diucapkan dalam hati, tetap saja butuh lebih banyak energi daripada dua cara sebelumnya. Apalagi jika sambil merenungkan makna dari apa yang diucapkan, yang adalah bagian penting dari mantra sadhana—laku mantra.

Anda bisa menggunakannya sebagai manasa yantra, alat untuk mengendalikan gugusan pikiran dan perasaan. Dengan mengucapkan mantra pilihan Anda berulang-ulang, energi pendorong akan bercabang. Justru pengucapan mantra berulang-ulang itu menjadi cabang utama. Demikian, memori-memori masa lalu akan kekurangan energi, hingga akhirnya mundur teratur. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Mengapa Berhubungan dengan Dewa?

Setelah merenung lama, saya menemukan makna yang beda sedikit, yaitu, “Walau seorang panembah berkeyakinan penuh memuja para dewa atau malaikat; dan, walaupun ia menyembah dengan cara yang tidak sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan dalam setiap kredo, dogma, doktrin, dan kepercayaan – tetaplah semuanya itu diterima oleh-Nya.” GUSTI PANGERAN TIDAK MEMPERHATIKAN CARA KITA BERDOA. Ia memperhatikan “ketulusan” kita, kesungguhan kita, niat kita di balik doa yang kita lakukan. Pun para dewa yang dimaksud di sini adalah ibarat para menteri dalam pemerintahan.

Jika kita menghadapi persoalan dalam bidang hukum, ya , lazimnya kita berhubungan dengan pejabat terkait, barangkali Dirjen atau Menteri. Tidak perlu langsung menghubungi Presiden. Tapi, ya, jika menteri tidak menanggapi kita, maka sah-sah saja kita menongkrongi Presiden, karena seorang menteri dalam sistem yang berlaku di negeri kita, adalah Pembantu Presiden. Maka sah-sah juga, jika kita menyampaikan keluhan kita kepada Presiden. Kemudian, sebagai Kepala Pemerintahan, sekaligus Kepala Negara, adalah kewajiban seorang Presiden untuk mengambil langkah yang diperlukan.

MEMUJA PARA DEWA, adalah sama dengan sopan-santun ketika menyurati atau menghadap menteri. Istilah untuk memuja dalam hal ini adalah “yajante” – yang juga bisa berarti “berupaya” – berhubungan, atau mempersembahkan sesuatu.

Adalah pemahaman betul yang dibutuhkan dalam hal ini. Menteri adalah Pembantu Presiden. Menteri bukan Presiden. Tapi, seorang menteri dapat membuat suatu peraturan,  Peraturan  Pemerintah,  yang kemudian ditandatangani oleh Presiden dan menjadi sah sebagai peraturan. Tentunya, analogi ini mesti dipahami sebagai analogi yang gagap, karena hubungan antara Gusti Pangeran dan para dewa atau malaikat tidak persis seperti itu. Analogi ini sekadar untuk mempermudah pemahaman kita.

………………..

Dalam Pemerintahan Alam Raya – ada pendelegasian kekuasaan dan wewenang yang jauh lebih demokratis. Para dewa atau malaikat bekerja secara independen. Namun, mereka sadar betul bila kekuasaan mereka, termasuk independensi mereka – semuanya berasal dari Gusti Pangeran. Mereka tidak bisa, tidak perlu bertindak semena-mena, dengan menggunakan dalaih  “kewenangan” dan “kekuasaan”. Penjelasan Bhagavad Gita 9:23 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia